Selamat datang di Jalantapak.Com

Awas...! Teroris Masih Mengincar Anak Muda

Monday, September 30, 20130 komentar


Masalah besar yang menjadi PR kita semua sampai saat ini, yaitu masih adanya tindakan terorisme. Kasus satu ini seolah tidak ada habisnya sejak adanya peledakan bom di Masjid Istiqlal tahun 1999 lalu dan peledakan bom mobil di gedung Bursa Efek Jakarta (BEJ) pada tahun 2000 yang menewaskan 10 orang.
            Sebelumnya, ada pertanyaan seperti ini, apa sih terorisme itu? Hayo apa? Kalimat terorisme itu sendiri berawal dari kata “teror” yang merupakan asal dari bahasa Latin terrorem, artinya rasa takut yang luar biasa. Teror memiliki kata kerja, terrere berarti membuat takut atau menakut-nakuti.
            Sedangkan pengertian tentang teror menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah menciptakan ketakutan, kengerian, atau kekejaman oleh seseorang atau golongan. Sedangkan teroris diartikan sebagai orang yang menggunakan kekerasan untuk menimbulkan rasa takut, biasanya untuk tujuan politik. Kata terorisme adalah penggunaan kekerasan untuk menimbulkan ketakutan dalam usaha mencapai satu tujuan tertentu.
            Jadi sederhananya terorisme merupakan suatu bentuk perilaku atau tindakan yang menimbulkan kecemasan atau ketakutan masyarakat banyak demi tujuan tertentu.
            Negara kita masih tidak dapat lepas dari permasalahan yang satu ini, lihat saja, aksi-aksi terorisme sekarang ini bukannya semakin berkurang malah bertambah dengan bentuk-bentuk teror yang baru.
            Jika pada saat paska 1998 tepatnya tahun 2000, para pelaku teror melakukan aksinya dengan pengeboman baik dilakukan dengan bunuh diri maupun menggunakan media lain seperti mobil atau tas ransel. Peledakan tersebut diantaranya sejumlah Gereja di Batam, Pekanbaru, Jakarta, Sukabumi, Mojokerto, Kudus, Mataram (24 Desember 2000), Paddy’s Pub dan Sari Club (SC) di Bali (12 Oktober 2002), Hotel JW Marriott I (5 Agustus 2003), Kantor Kedutaan Besar Australia (9 September 2004), Hotel JW Marriott II dan Ritz-Carlton Jakarta (17 Juli 2009), Kantor Polresta Cirebon (15 April 2011), dan Kantor Polresta Poso (3 Juni 2013).
            Cara lain yang dilakukan oleh pelaku teror adalah dengan penembakan langsung seperti yang pernah terjadi di Kota Solo, pelaku melakukan penembakan di 3 pos polisi yang berbeda, pertama di daerah Singosaren tahun 2012, yang menggugurkan seorang polisi, kedua di Serengan Solo yang melukai dua orang polisi pada tahun yang sama. Berbeda pada kasus yang ketiga, satu pos polisi dilempar granat oleh pelaku teror juga di tahun yang sama.
            Selain itu, sampai tahun ini ternyata pihak polisi telah lebih dulu menangkap pelaku yang berniat untuk melakukan aksi teror di masyarakat loh, syukur sudah tertangkap, bagaimana jika para pelaku ini lebih dulu mengeksekusi aksinya di tengah masyarakat.
            Diantaranya ada yang tertangkap dikarenakan merakit bom siap ledak, bom buku, sampai dengan keterlibatan langsung dengan jaringan kelompok teroris. Bayangkan bagaimana jika bom-bom tersebut lebih dulu meledak? Berapa banyak lagi korban jiwa yang harus berjatuhan coba? Dan bagaimana jika jaringan teroris di Indonesia sudah terlanjur besar. Hal ini tentu tidak hanya meresahkan umat Islam yang cinta dengan toleransi dan hidup damai, namun akan dapat mengancam saudara sebangsa kita di seluruh wilayah Indonesia.
Teror Hi-Tech
            Fiuuuuh…, banyak banget ya cara-cara pelaku teror menjalankan niat buruknya mereka. Diantara beragam cara itu ada satu cara yang menjadi perhatian serius pihak kemanan dan juga masyarakat saat ini, yaitu penyerangan paham teror melalui media internet, wuah yang satu ini pelakunya agak sedikithi-tech nih.
            Internet saat ini menjadi media lain dari para teroris untuk menyebarkan paham-paham kebencian mereka ke tengah masyarakat, mengingat sebagian besar masyarakat sekarang banyak yang menggunakan internet. Coba saja lihat sudah berapa warnet bersebaran dimana-mana, blackberry dan ponsel pintar lainnya sudah satu paket terkoneksi dengan internet. Bahkan bila kita menggunakan internet tidak harus bayar, tanpa biaya sepeser pun kita bisa browsingmenggunakan internet, misal di titik-titik hotspot, atau melalui penyedia layanan internet gratis, pinjam teman atau pinjam server internet sekolah atau kantor orangtua kita, ehehehe
            Walaupun tidak melakukan kekerasan langsung, mereka tetap dikatakan melakukan kekerasan, yaitu kekerasan non verbal, yaitu dengan media tulisan dan ucapan. Beberapa kasus sempat terungkap oleh pihak kepolisian dari kejahatan internet yang dilakukan oleh kelompok radikal memperlihatkan bagaimanawebsite mereka penuh dengan kebencian terhadap negara Indonesia yang menurut mereka sebagai negara kafir, polisi sebagai pelindung negara kafir serta masyarakat yang tidak mau memerangi pemerintah Indonesia dianggap sebagai pengikut negara kafir.
            Sama halnya pada saat terbongkarnya video yang di upload di Youtube dengan judul “seruan01” yang sekarang akun video tersebut sudah dihapus dari Youtube. Video yang diduga diambil di tengah hutan daerah Poso ini memerintahkan siapa saja yang melihat video mereka untuk memerangi polisi sebagai salah satu institusi negara.
            Sebelumnya sekitar pada tahun 2010 juga ditemukan video yang cukup panjang menggambarkan suasana pelatihan militer di sebuah hutan daerah Aceh, namun disayangkan pelatihan ini bukanlah bertujuan baik, melainkan bertujuan untuk melakukan teror di wilayah Indonesia, memerangi pemerintahan yang sah, serta memerangi orang-orang yang mereka anggap kafir di Indonesia. Dari video tersebut juga mereka mempengaruhi siapapun yang melihat bahwa jihad hanya bisa dilakukan dengan mengangkat senjata dan bagi siapapun yang tidak mengikuti akan dianggap sebagai pengkhianat Islam alias kafir. Apakah benar jihad itu harus dilakukan dengan mengangkat senjata? Tentu tidak kan.
Kawan kita menjadi korban
            Agak mengagetkan kita bahwa pelaku teror akhir-akhir ini banyak melibatkan kalangan usia muda lho, mungkin ada juga yang seumuran dengan salah satu pembaca muda. Inilah mengapa aksi-aksi teror di Indonesia seakan tidak pernah habis, karena dari pelaku sendiri melakukan regenerasi dengan sasaran anak muda, bukan hitungan puluhan tahun saja, melainkan sudah menyasar kepada usia yang masih belasan.
            Contohnya saja pelaku penembakan pos polisi di solo, 3 tersangka masih berusia 19 tahun, perakit bom buku di Bengkulu masih berusia 18 tahun, 2 pelaku perakit bom di Klaten tahun 2011 masih berstatus pelajar SMK usia 18 tahun dan 19 tahun, peledakan bom di JW Marriot tahun 2012 masih berusia 18 tahun. Kasus terakhir tersangak perakitan bom di Beji, Depok tahun 2012 berusia 19 tahun, serta tersangka yang terlibat dengan jaringan organisasi teroris dan ditangkap di daerah Mampang, Jakarta masih berusia 16 tahun.
            Wuah…, banyak juga yah usia baru belasan tahun dan pasti masih berstatus sebagai pelajar sudah ikut terlibat aktif dengan aksi dan jaringan teroris di Indonesia. Benar, sekarang kelompok teroris tidak melakukan kaderisasi di kalangan usia puluhan tahun lagi, kalangan 30 tahunan atau 40 tahunan, mereka menjadikan remaja belasan tahun menjadi tameng mereka untuk menyebarkan kebencian terhadap kelompok di luar mereka.
            Usia muda memang rentan mudah dimasuki oleh pengaruh perilaku maupun pemikiran luar, benar gak? Gak percaya? Nih, saya kasih contoh, pada saat saya masih kecil dulu, antara tahun 98 sampai tahun 2000-an, generasi muda Indonesia sedang dilanda deman boyband asal negara Barat seperti Amerika, Kanada, maupun Inggris, dalam waktu sekejap anak muda Indonesia mengikuti gaya-gaya boyband barat, dari rambut, pakaian sampai cara menarinya.
            Sekarang terulang lagi kan, pemuda saat ini lagi demam boyband dan girlband asal Korea, banyak tuh yang mengikuti gaya mereka bahkan grup musik dalam negeri kita mengikuti model grup asal Korea. Nah, terbukti kan bagaimana anak muda cepat berpengaruh terhadap apa-apa yang ada di luar mereka.
            Dari sinilah, ada kelompok-kelompok yang tidak suka dengan pengaruh Barat tersebut “merasuki” pemikiran dan sikap anak muda Indonesia. Kelompok ini, - yang pada kasus di Indonesia merupakan kelompok agamis (kelompok yang meninggikan nilai-nilai agama) – berusaha untuk mempengaruhi anak muda Indonesia untuk kembali kepada agama. Namun disayangkan cara yang diajarkan jauh dari nilai-nilai agama, berdakwah dengan mengedepankan cara kekerasan, melakukan sweeping, membunuh orang-orang kafir di Indonesia yang di dalam Islam sendiri kelompok kafir terbagi menjadi beberapa golongan dan tidak semuanya harus diperangi, sampai mempengaruhi pemuda untuk membenci negaranya sendiri karena sudah dianggap sebagai negara kafir.
            Pasti tidak semua pemuda yang suka dengan budaya Barat dan lebih memilih Islam sebagai contoh perilaku mereka, betul kan, pasti ada deh yang seperti itu. Dan, kita acungi jempol kepada anak muda yang tidak ikut-ikutan budaya luar, namun bagaimana jika mereka memilih panutan yang salah? Bertemu dengan panutan yang meninggikan Islam tapi dengan merendahkan agama lain, bahkan menghina negara Indonesia sendiri, ini yang bahaya. Inilah yang saya maksud peluang munculnya generasi teroris yang baru.
            Lalu siapa saja yang menjadi korban? Apakah hanya polisi? Warga negara asing? Umat non muslim? Atau fasilitas negara saja? Bukan hanya itu, yang menjadi korban teroris di Indonesia adalah masyarakat umum lho.
            Lihat saja contoh kasus bom buku di kantor radio KBR 68 H Jakarta, siapa yang menjadi korban? Selain 3 anggota polisi, dua orang satpam ikut terkena dampak ledakan, dan sasaran bom tersebut adalah radio swasta.
            Selain itu sasaran bom buku juga mengarah ke kantor Badan Narkotika Nasional, rumah ketua Pemuda Pancasila, dan kantor vokalis yang cukup kita kenal, Ahmad Dhani. Nah, benar kan bahwa terorisme itu bisa menyasar kemana saja. Siapapun yang dibenci oleh pelaku teror, dialah yang menjadi sasaran. wah, banyak juga ya yang dibenci, tapi kok cara menegurnya seperti itu.
Terorisme segala bidang dan wilayah
            Jika menurut Hoffman yang terdapat dalam buku “Deradikalisasi Terorisme”, terorisme memiliki beberapa karakter. Pertama karakter nasionalis-etnosentris, yaitu anti terhadap pemerintah dan melakukan penyerangan terhadap daerah yang aman, dalam bentuk separatis.
            Kedua, religius, dengan melakukan serangan terhadap masyarakat sipil, bentuk bom bunuh diri termasuk sebagai bentuk dari serangan ini, contohnya seperti apa yang terjadi di Indonesia, serta dalam bentuk kelompok seperti Jemaah Islamiah (JI), gerakan garis keras di Hindu seperti kelompok Sikh di India, serta Macan Tamil di Sri Lanka.
            Ketiga, Ideologi (kepercayaan pada politik tertentu), bertujuan untuk menyebarkan propaganda kebencian anti terhadap imigran dan melakukan aksi pengeboman, misal apa yang dilakukan oleh gerakan Nazi di Jerman dan gerakan fasis lain di Italia.
            Keempat, Single Issue, yaitu dengan melakukan sabotase dan menyebarkan ancaman pengeboman terhadap objek-objek vital, disebabkan karena merasa melihat adanya ancaman terhadap kelangsungan lingkungannya dan orang-orang di daerahnya.
            Kelima, faktor negara sponsor, yaitu dengan melakukan sabotase atau penggunaan senjata kimia yang dilakukan oleh sebuah kelompok pemerintahan.
            Keenam, faktor penderita sakit jiwa, yang dilakukan oleh individu dengan melakukan pengeboman atau perampokan.
            Lalu, jika menurut Departemen Penelitian dan Pengembangan Kementerian Pertahanan Republik Indonesia, membagi karakter terorisme menjadi 4 kelompok. Pertama, Karakteristik Organisasi yang meliputi organisasi, rekrutmen, pendanaan, dan hubungan internasional
            Kedua, Karakteristik terorisme yang memiliki persamaan dalam operasi, misal perencanaan eksekusi teror, waktu, taktik dan kolusi.
            Ketiga, Karakteristik Perilaku, yang meliputi kesamaan motivasi, dedikasi, disiplin, keinginan membunuh dan keinginan menyerah hidup-hidup
            Keempat, Karakteristik Sumber Daya, yang meliputi kesamaan latihan, pengalaman per-orangan di bidang teknologi, persenjataan, perlengkapan dan transportasi.
            Nah, dilihat dari teori-teori diatas, terorisme itu dapat bersifat lintas agama, ras, bahkan bisa lintas batas negara. Terorisme dikatakan sebagai sebagai aksi lintas agama, artinya agama manapun bisa melakukan aksi teror terhadap agama lain, misalkan di Indonesia yang dilakukan oleh oknum kelompok Islam terhadap kelompok Kristen, Hindu atau Budha, di Myanmar yang dilakukan oleh oknum kelompok Budha terhadap kelompok Islam dengan kasus Rohingnya.
            Terorisme dapat dilakukan dengan lintas ras misal yang dilakukan oleh kelompok Nazi terhadap bangsa Yahudi maupun Kelompok Fasis Italia dibawah rezim Mussolini yang membunuh bangsa negro seperti Ethiopia.
            Terakhir terorisme dapat menembus ke batas antar negara, seperti kelompok Boko Haram. Kelompok ini memiliki basis di Nigeria, namun selain itu, kelompok ini juga memiliki wilayah pengikut di Kamerun utara serta negara Niger. Kelompok Boko Haram, melakukan tindakan teror dengan membunuh kelompok Kristen serta pemimpin-pemimpin yang tidak sejalan dengannya, salah satunya terlibat dalam pembunuhan salah satu Walikota di wilayah Kamerun.
            Lalu ada organisasi Al-Qaeda, yang awalnya melakukan kegiatan “jihadnya” di Afghanistan, namun sampai saat ini, operasi teror al-Qaeda sudah bisa masuk ke Amerika dengan peristiwa yang dikenal sebutan 9/11 dimana dua gedung kembar World Trade Centre (WTC) hancur dengan korban jiwa yang tidak sedikit.
            Pengaruh al-Qaeda juga masuk ke wilayah Asia Tengara, diantaranya Malaysia, Filipina dan Indonesia. Operasi “Jihad” mereka terus dilakukan walaupun bukan ditempat perang, otomatis dong  kegiatan mereka meresahkan masyarakat yang awalnya hidup damai tiba-tiba diusik oleh peperangan mereka, dengan kata lain area perang mereka dipindah ke wilayah aman, akhirnya wilayah yang sebelumnya aman sentosa berubah menjadi area perang yang penuh dengan kebencian.
Terorisme bisa dihindari
            Para pembaca, inilah salah satu bentuk kekerasan yang berbahaya bagi seluruh dunia, termasuk Indonesia, tapi apakah terorisme ini bisa dihindari? Tentu bisa dong. Bagaimana? Oke, saya akan berikan tips sederhana bagaimana menghindari pengaruh terorisme ini terutama di Indonesia.
            Pertama, back to Bhinneka Tunggal Ika. Terorisme di Indonesia menggunakan isu agama untuk memuluskan pengaruh mereka, namun sayangnya ajaran mereka tidak melihat karakter masyarakat Indonesia pada umumnya yang beragam kultur budaya ini.
            Islam adalah agama terbuka, Islam tidak menutup diri kepada kelompok lain, sedangkan para kelompok teroris ini menganggap kelompok lain yang tidak sejalan dengan agama mereka adalah salah, tidak hanya itu, umat Islam yang tidak mengikuti ajaran kelompoknya juga dianggap salah, jadi apakah hal ini diajarkan oleh Islam?
            Nabi Muhammad pun menghargai keberadaan umat Nasrani dan Yahudi pada saat memimpin di Madinah, bahkan suku-suku kecil diluar kelompok Nabi Muhammad pun dihormati. Begitu juga Bhinneka Tunggal Ika, yang nilai-nilai di dalamnya ada makna untuk menghargai kelompok yang berlainan, kerena mereka sebagai sesama warga Indonesia. 
            Karena Indonesia mempunyai dasar negara salah satunya Bhinneka Tunggal Ika, dan bukan negara yang dilandasi oleh agama tertentu, maka jika kalian menemukan kelompok yang mengajarkan kebencian terhadap kelompok tertentu maka segera tinggalkan kelompok tersebut. Karena tidak sesuai dengan dasar negara kita dan ajaran Islam yang sesungguhnya.
            Kedua, tidak belajar pada satu ustadz atau guru saja, nah masalah agama di Indonesia merupakan hal yang sensitif bagi masyarakat Indonesia, dari ujung aceh sampai papua, tata cara beribadah atau berprilaku agama bisa berbeda-beda. Artinya apa? Artinya jika kita hanya berilmu hanya pada satu ustadz atau guru saja, kita akan susah menerima perbedaan pendapat atau pandangan dari orang lain. Belajar dari guru yang berbeda merupakan nilai tambah bagi kita agar ilmu yang telah kita dapatkan bisa dikembangkan atau dibandingkan dengan ilmu lainnya, sehingga kita dapat mengkaji lebih baik lagi ilmu yang didapat agar sesuai dengan pemahaman masyarakat pada umumnya, sesuai dengan kondisi kemasyarakatan di Indonesia.
            Ketiga, internet sehat, pembaca semua pasti akrab dengan yang namanya internet, nah bagaimana kita memanfaatkan internet ini? Betul, dengan memanfaatkan sebagai sumber ilmu positif. Lalu, bagaimana jika menemukan ilmu-ilmu yang negatif, misal dalam kasus pengaruh ajaran kekerasan terorisme ini. Silahkan saja kalian lihat tulisan atau websitenya, tapi setelah itu cari sumber ilmu lain yang sedang dibahas oleh kelompok radikal tersebut, apakah dibenarkan diterapkan di Indonesia? Apakah dibenarkan dengan ajaran Islam? Inilah manfaatnya studi banding di internet, dengan mudah kita akan mendapatkan sumber ilmu dari ahli-ahli agama lainnya secara mudah.
            Inilah yang dibutuhkan oleh Indonesia, yaitu pemuda yang dapat berkata lantang menolak segala tindakan radikalisme-terorisme, pemuda yang dapat menjadi panutan masyarakat dengan mengedepankan toleransi dan kebersamaan, pemuda yang dapat menjaga harkat martabat bangsa Indonesia sebagai negara yang kuat akan persatuannya. Banggalah menjadi Indonesia.
Share this article :

Post a Comment

Support : Jalantapak | Jalantapak | Johny Template | Mas Templatea | Pusat Promosi
Copyright © 2017. Knowledge | Family - All Rights Reserved
Template Created by Jalantapak Modify by jalantapak.com
Proudly powered by Blogger