Selamat datang di Jalantapak.Com

Polisi diteror?

Monday, September 16, 20130 komentar


Hampir dua bulan terakhir ini, khususnya di Jakarta hampir mulai marak kasus penembakan langsung terhadap anggota kepolisian oleh pelaku yang sampai saat ini masih misterius. Tidak mengira kasus penembakan yang sebelumnya pernah terjadi di kota Solo tahun lalu saat ini kembali terjadi, siapa lagi yang bermain.

Awalnya hanya terjadi di pinggiran kota Jakarta, tepatnya di daerah Ciputat, namun baru-baru ini kasus penembakan terhadap anggota kepolisian terjadi di tengah-tengah kota Jakarta, dan terakhir ini terjadi kembali di Cimanggis, Depok, walau diduga kasus yang terakhir motifnya adalah perampokan motor.

Rangkaian kasus penembakan tersebut secara tidak langsung menjadi teror tersendiri bagi pihak kepolisian Republik Indonesia. Saya tidak membahas apa motif penembakannya, apakah ini bermotif perampokan, politik, terorisme, atau hanya sekedar aksi ‘koboi-koboi’an, tapi mungkin hampir semua masyarakat berpikiran sama bahwa saat ini polisi sedang diteror oleh si penembak misterius. Lalu siapa yang lebih khawatir disini? Masyarakatkah? Bisa jadi…, tapi hampir semua anggota keluarga yang suami, ayah, ibu, atau istrinya berprofesi sebagai polisi juga atau pasti merasa terteror.

Tapi apakah seluruh keluarga polisi itu seharusnya merasa terteror? Dengan segala hormat kepada keluarga korban dan seluruh keluarga polisi pada umumnya, seharusnya kejadian penembakan ini tidak membuat mereka merasa terteror. Memang itu semua adalah resiko yang harus ditanggung oleh seorang anggota polisi dimana pun mereka berada, apapun pangkatnya, yang memang bertugas melindungi masyarakat, ancaman penembakan dan segala hal yang megancam nyawa pasti akan terus mengintai para polisi.

Seseorang yang memilih hidup sebagai anggota kepolisian atau bidang militer lainnya, harus sudah siap dengan segala resiko itu. Tidak hanya mereka, kesiapan mental juga harus dimiliki oleh keluarganya juga.

Sekali lagi, saya sebagai penulis bukan tidak prihatin dan sedih dengan semua kasus penembakan polisi, saya juga sangat geram terhadap kasus penembakan ini. Seorang polisi juga manusia biasa yang memiliki kewajiban menafkahi keluarganya. Bagaimana jika polisi yang ditembak itu adalah tulang punggung keluarga? Apakah si penembak tidak memikirkan itu? Saya yakin tidak.

Saya sangat salut dengan ketegaran keluarga korban yang menerima ikhlas kepergian suami/ayah mereka yang tercinta, penulis yakin keluarga korban mempercayai bahwa suami/ayah mereka meninggal dalam keadaan berjihad, karena meninggal dalam keadaan bertugas.

Catatan penulis sampaikan untuk pemimpin negara ini dan kepolisian Republik Indonesia khususnya, untuk segera menangkap pelaku penembakan secepatnya karena kasus-kasus tersebut sudah menjatuhkan kewibawaan negara. Penembakan ini bukan hanya perlawanan si pelaku terhadap polisi saja, melainkan kepada negara, dan masyarakat merasa resah dengan kejadian ini. Jika polisi saja berani ditembak, bagaimana dengan masyarakat?
Kepada seluruh anggota kepolisia Republik Indonesia, jangan mundur satu langkah pun dalam melindungi masyarakat. Jagalah wibawa kepolisian, jagalah wibawa negara.Aajak masyarakat untuk lawan semua bentuk teror. Kita bukan pengecut, kita INDONESIA.
Share this article :

Post a Comment

Support : Jalantapak | Jalantapak | Johny Template | Mas Templatea | Pusat Promosi
Copyright © 2017. Knowledge | Family - All Rights Reserved
Template Created by Jalantapak Modify by jalantapak.com
Proudly powered by Blogger