Selamat datang di Jalantapak.Com

Menabung Amal Dari Jalanan

Friday, September 13, 20130 komentar







Menabung Amal Dari Jalanan

Halo sobat muda, kali ini penulis mau coba sharing dan kembali mungkin bisa menjadi bahan renungan dan diskusi kita bersama. Tulisan ini berawal dari pengalaman, penglihatan, merasakan sehari-hari dari perjalanan pergi-pulang ke dan dari tempat kerja penulis.

Penulis berfikir bahwa seseorang dapat dilihat karakternya jika sedang berada di jalanan umum, memang ada juga yang berpendapat bahwa karakter asli seseorang justru dapat dilihat pada saat mengikuti kegiatan hiking atau kemah di gunung, memang benar, tapi tak semua orang berkesempatan atau tertarik untuk ‘jalan-jalan’ ke gunung kan? Kalau di jalanan, penulis yakin semua orang pasti pernah merasakan ‘tanah’ jalanan.

Sekali lagi penulis tidak sedang menghakimi siapapun, penulis juga sadar banyak kekurangan dari diri penulis jika berada di jalan, ya itulah yang penulis katakan, jalanan mencerminkan pasang-surut karakter manusia.

Banyak kita temui berbagai karakter manusia jika sedang berada di jalanan, berhubung penulis dalam kesahariannya menggunakan sepeda motor dan istri penulis menggunakan angkutan umum, jadi penulis membatasi ‘fenomena’ dari sudut pandang tersebut dalam kehidupan di ibukota.

Mungkin diantara pembaca yang ‘senasib’ dengan penulis dalam keseharian perjalanannya banyak melihat karakter orang yang terkesan egois, tidak peduli ataupun cuek-cuek saja dengan keberadaan orang lain. Yang namanya di jalanan umum, tentu seluruh jalan adalah milik umum bukan milik pribadi.

Banyak pengendara motor yang terkadang bikin ‘jengkel’ penulis sendiri (mungkin penulis juga pernah membuat ‘jengkel’ orang lain), seperti tidak mau mengalah dengan kendaraan dari arah lain (kejadian ini bayak sekali ditemui jika berada di persimpangan) apalagi jika berhadapan dengan mobil, pemotor jarang yang mau mengalah memberikan kesempatan lewat mobil, apa ruginya kita kehilangan sepersekian detik saja untuk membiarkan pengendara lain lewat? Padahal setelah penulis mempersilahkan pengendara lain lewat daripada menimbulkan kemacetan di persimpangan, pemotor yang ‘nakal’ itu bisa penulis susul dengan kecepatan sedang (40-60 Km/jam).

Beberapa kasus lainnya dapat dilihat dalam draft berikut:


  • Di simpang yang ada lampu rambu lalu lintas, biasanya banyak pemotor yang lewat begitu saja padahal lampu belum berwarna hijau, atau pemotor atau yang mengendarai mobil menambah kecepatan mobilnya pada saat lampu kuning menyala menuju lampu merah, yang seharusnya jika tanda ini ada, pengendara diharuskan memperlambat lajunya.


  • Pemotor yang naik ke trotoar dimana trotoar adalah hak pejalan kaki.


  • Main klakson di saat macet.

  • Memotong jalur pengendara lain tanpa memberikan tanda lampu (sign), langsung belok ke kiri atau kanan, biasa dilakukan oleh pengendara motor maupun mobil.

  • Pembonceng motor maupun pengendara tidak memakai helm atau memakai helm namun tidak standar.

  • Berjalan lambat di jalur kanan, yang seharusnya untuk kendaraan yang lebih cepat.

  • Mengambil jalur arah berlawanan, biasanya dilakukan oleh pengendara motor pada saat berada pada kemacetan di persimpangan dengan jalan yang sempit, sehingga menghambat kendaraan dari arah berlawanan.

  • Tidak memberikan kesempatan orang menyebrang walaupun sudah memberikan tanda dengan tangannya atau sudah berada di area zebra cross.

  • Kejadian di kendaraan umum seperti bis, penumpang yang mendapatkan tempat duduk tidak mau memberikan tempat duduknya kepada lansia, ibu hamil, maupun yang membawa anak balita, sampai harus ditegur dulu oleh kondektur bis baru memberikan tempat duduknya.

  • Menerobos antrian pada saat menaiki bis atau angkutan umum

Itulah beberapa kasus yang sering penulis temui jika berada di jalan umum, tidak terlepas pengendara biasa saja, kasu-kasus tersebut penulis lihat dilakukan oleh kalangan ‘eksklusif’ seperti anggota klub motor, angkatan militer, sampai yang memakai atribut agama tertentu yang seharusnya lebih mengerti arti etika dan sopan santun.
Sesuai dengan judulnya, seharusnya jalanan dapat dijadikan lading penambah amal kita, atribut seseorang tidak menjamin mencerminkan karakter orang yang memakainya. Penulis mengingat kata-kata almarhun Ustadz Jefri al-Buchori, yang diwawancari oleh salah satu infotainment tentang alasannya selalu menggunakan motor gede (moge) nya. Jawaban yang diberikan, dengan mengendarai mogenya ia bisa terus beristighfar mengingat Allah dikala ada perasaan sombong membawa moge pada saat berada di jalan.
Seperti itulah seharusnya kendaraan kita dijadikan alat untuk selalu mengingat Tuhan kita. Banyak cara yang dapat kita lakukan untuk mencari tabungan amal kita di jalan, seperti:
  • Menghormati pengendara lain, dengan memberikan jalan atau tidak memaksakan jalan padahal kesempatan jalan berada pada pengendara lain, tidak susah kan mengerem beberapa detik saja.
  • Bersabar jika hak kita merasa di ‘rampas’ oleh pengendara lain (tidak mau memberikan jalan).
  • Selalu beristighfar dan belajar tidak sombong jika dapat mengendarai kendaraan yang lebih mewah dari pengendara lain.
  • Memberikan tempat duduk kepada orang yang lebih membutuhkan.
  • Menghormati hak pejalan kaki
  • Melatih mengendalikan emosi, dll.
Di Indonesia yang masyarakatnya lebih banyak muslim, seharusnya dapat menjadikan contoh kepada masyarakat yang beragama lain dalam rangka membentuk karakter jiwa yang pemaaf, sabar, dan toleransi kepada orang lain, Islam mengajarkan untuk menghormati hak orang lain, begitupun juga ada di ajaran agama lain.

Inilah ladang yang kita lupa padahal kita lakukan setiap hari, tidak berlebihan jika cerminan Indonesia maupun umat Islam tidak akan baik jika perilaku kita di jalan juga tidak baik. Jika sudah baik, tidak perlu lagi untuk menertibkan diri harus polisi lalu lintas yang menertibkan, seharusnya kita sendiri bisa.

Tidak berlebihan juga, kekerasan yang besar dapat diminimalisir atau dihilangkan sama sekali jika dalam adab berkendara tidak mengikuti egoisme dan emosi kita. Lebih baik kehilangan seperkian detik untuk menghormati keberadaan pengendara lain dibandingkan menyerobot hak orang lain yang berujung kepada kecelakaan atau mendapatkan sumpah serapah dari orang, karna sumpah seseorang yang merasa tersakiti dan mendoakan orang yang menyakiti dengan perasaan tersakitinya bisa menjadi kenyataan menimpa kita. Bisa dibayangkan sumpah atau doa apa yang keluar dari orang tersebut?


Sumber: Pengalaman sehari-hari
Share this article :

Post a Comment

Support : Jalantapak | Jalantapak | Jalantapak | Jalantapak Template | Pusat Informasi
Copyright © 2017. Knowledge | Family - All Rights Reserved
Template Created by Jalantapak Modify by jalantapak.com
Proudly powered by Blogger