Selamat datang di Jalantapak.Com

Membangun Muslim Toleran

Tuesday, October 8, 20130 komentar


Sudah kita pahami bersama sebagai umat Islam, bahwa Islam merupakan agama Rahmatan lil Alamin yang memiliki nilai kebaikan bagi seluruh alam, agama yang universal, dan agama yang damai. Namun, sepertinya kita lupa akan hakikat dari kalimat tersebut, dimana kepentingan ego idologi memainkan peran yang lebih tinggi dari ego hati. Akibatnya, tidak dapat dihindari dan semakin banyak konflik individu, atau yang lebih besar konflik agama maupun kelompok.

Indonesia sebagai negara penduduk muslim terbesar dan memiliki tingkat religius yang tinggi seharusnya dapat memberikan contoh kepada dunia akan implementasi toleransi keberagaman. Pandangan masyarakat luar akan keberhasilan Indonesia menjaga keutuhan persatuan dalam negeri perlu kita cermati karena apa yang ada di dalam “cover” Indonesia itu sendiri masih ada ‘gap’ (jarak) yang besar dalam permasalahan toleransi tersebut.

Sebagian kelompok muslim memilih jalur “keras” dengan memaksakan egoisme visi misinya. Pemaksaan ini tidak membawa suatu solusi melainkan memperbesar ‘gap’ tersebut, saling curiga antar sesama muslim sampai menebar kebencian terhadap agama lain, sesuatu visi yang bertolak belakang dengan hakikat Islam itu sendiri.

Sekitar tahun 1193, pada masa perang salib, seorang jendral perang yang tangguh namun memiliki sifat kemanusiaan yang luar biasa dalam mempertahankan kota suci Jerusalem, Shalahuddin Al-Ayyubi, menunjukkan etika toleransinya dalam menjaga kemuliaan Islam. Saat mengetahui Raja Richard sakit keras, dengan kebesaran hatinya, Shalahuddin mengobati Richard sampai sembuh. Richard tersentuh dengan apa yang dilakukan Shalahuddin sampai pada akhirnya Ia menawarkan perjanjian damai dan membawa pulang kembali pasukan Kristen ke Eropa.

Kemanusiaan Shalahuddin juga ditunjukkan ketika membebaskan umat Nasrani untuk tinggal di seluruh wilayah Jerusalem. Bahkan salah satu tawanan tentara salib dilepaskan tanpa adanya tebusan apapun dikarenakan tentara tersebut merupakan tulang punggung keluarga Nasrani yang harus menghidupi istri dan anak-anaknya dengan menjadi tentara pasukan salib.
Semangat toleransi yang tinggi dicontohkan oleh Nabi Muhammad Saw, yang sampai saat ini menjadi tonggak sejarah penting akan bersatunya kelompok suku, agama maupun keyakinan.

Setelah masuknya Muhammad ke negeri Madinah, suatu teks tertulis diterbitkan untuk mempersatukan golongan masyarakat di negeri tersebut, yaitu “Piagam Madinah”. Sebanya 47 pasal dicantumkan umtuk mengikat golongan-golongan yang ada untuk kemudian menjadi satu tanpa adanya perbedaan, sebaliknya masyarakat menunjukkan sikap menerima dan menghormati piagam tersebut, sehingga muncul suatu semangat akan terciptanya suatu masyarakat yang majemuk.

Pada masa penyebaran Islam di Indonesia, nilai toleransi ditunjukkan oleh salah satu walisongo, Sunan Kalijaga. Wayang kulit menjadi sarana dakwah sunan untuk mengalkulturasi antar budaya dan agama yang masuk terlebih dulu sebelum Islam. Cara ini mendapatkan hati tersendiri bagi masyarakat pada saat itu, dengan antusias mengikuti cerita yang dibawakan oleh sunan kalijaga dimana cerita tersebut banyak berisi tentang nilai-nilai ke-Islaman. Dampak yang di dapatkannya adalah rasa simpati terhadap Islam sehingga tidak sedikit orang-orang yang memeluk Islam.

Contoh-contoh inilah yang seharusnya diterapkan oleh setiap umat Islam dan tidak terlepas bagi umat beragama lainnya, dimana sikap toleransi dan menjunjung tinggi nilai keberagaman dihadirkan. Umat muslim sebagai umat terbesar di Indonesia harus dapat menunjukkan bahwa Islam agama yang santun maupun menghormati agama maupun kelompok lain.

Umat muslim harus dapat membuka dialog dengan umat lainnya untuk mencari solusi bersama yang baik. Indonesia merupakan negara besar dengan beragam latar belakan gklompok di dalamnya. Islam yang menjadi kelompok terbesar seharusnya bisa menjadi pemberi solusi dari permasalahan kenegaraan bukan menciptakan konflik baru. Dengan dialog dan menyadari hidup dalam perbedaan, konflik yang terjadi saat ini dapat kita hindari.

Rasa simpati terhadap Islam di Indonesia yang datang dari pandangan masyarakat luar negeri tidak hanya terlihat dari “cover”, namun dapat terihat pada “isi” sebenarnya di negara Indonesia. Dengan memupuk nilai kebersamaan dan membuka dialog, umat muslim di Indonesia bisa menjadi pelopor akan bangkitnya Islam yang toleran.
Share this article :

Post a Comment

Support : Jalantapak | Jalantapak | Johny Template | Mas Templatea | Pusat Promosi
Copyright © 2017. Knowledge | Family - All Rights Reserved
Template Created by Jalantapak Modify by jalantapak.com
Proudly powered by Blogger