Selamat datang di Jalantapak.Com

Yang Muda Menjaga NKRI

Wednesday, October 9, 20130 komentar





Pembaca muda, kita dilahirkan sebagai warga Indonesia, yang terdiri dari berbagai suku, rasa, budaya dan agama yang bersatu dari Sabang sampai Merauke dengan jarak bermil-mil jauhnya. Mengapa Indonesia bisa menjadi negara yang begitu besar, baik dari wilayahnya maupun dari masyarakatnya yang beranekaragam latar belakang itu? Yang pernah jadi ketua kelas pasti agak susah mengatur kawan-kawan di kelas kalian kan? Bandingkan dengan mengurus orang-orang se-Indonesia?


Masyarakat Indonesia dapat bersatu menjadi bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia karena adanya momentum kesadaran menjadi kesatuan. Kesadaran akan tujuan yang sama yaitu merdeka, bebas dari penjajahan. Mari kita lihat sejarahnya.




Indonesia dahulu berupa kerajaan-kerajaan kecil dan besar namun terpisah-pisah, baik dari kerajaan Hindu, Budha maupun Islam. Seperti Singosari, Sriwijaya, Majapahit, Kutai, Demak, Mataram, apa lagi hayo? Bukan raja jalanan yah, apalagi raja hutan, hehe




Pada abad ke 14 (1293-1520) menjadi saksi bangkitnya sebuah kerajaan Hindu di Jawa Timur, Majapahit. Pada saat Majapahit dipimpin oleh Patih Gajah Mada, dapat menguasai hampir di seluruh wilayah yang kini sebagian besarnya adalah Indonesia beserta hampir di seluruh Semenanjung Melayu.




Momentum kebangsaan menyatukan Nusantara terlihat dari sumpah Patih Gajah Mada yang kita kenal dengan Sumpah Palapa, dimana Gajah Mada tidak akan menikmati buah palapa sebelum menyatukan Nusantara. Walaupun, momentum kesadaran pada saat itu adalah dengan penaklukan untuk pelebaran wilayah kekuasaan kerajaan Majapahit, yang dapat kita ambil disini adalah semangat untuk mempersatukan wilayahnya.




Lalu Indonesia memasuki era kolonialisme, dimulai dari Portugis, dibawah pimpinan Alfonso de Albuquerque pada rentang tahun 1511-1574, lalu Spanyol pada periode (1521-1646), dan Belanda yang lebih lama pada masa periode (1595-1942).




Nusantara menjadi pelabuhan maritim bagi kerajaan Portugis pada periode 1511-1526 selama 15 tahun. Pendudukan ini kemudian berhasil dilawan oleh pasukan dari Kerajaan Malaka dibawah pimpinan Sultan Falatehan atau dikenal Fatahillah di Sunda Kelapa. Fatahillah kemudian mengubah nama menjadi Jayakarta yang artinya adalah kemenangan besar, inilah cikal bakal lahirnya Batavia yang kemudian berganti menjadi Jakarta.




Rakyat Aceh juga melakukan perlawanan atas pendudukan bangsa kolonial, dibawah pimpinan Sultan Iskandar Muda. Selain Aceh, perlawanan juga datang dari Maluku di zaman Sultan Babulah yang mengusir Portugis ke Timor Timur.




Satu peristiwa momentum kesadaran yang datang dari para pedagang Islam akan pentingnya persatuan Nusantara ditandai dengan terbentuknya Serikat Dagang Islam (SDI). Awal dibentuknya serikat ini adalah untuk menyaingi pedagang dari Tionghoa, namun menjadi berkembang besar dengan menantang penindasan dan kolonialisme.




SDI terdiri dari pedagang-pedagang Islam yang dirintis oleh Haji Samanhudi di Surakarta pada tahun 1905 yang bertujuan untuk menghimpun para pedagang pribumi Islam khususnya pedagang batik yang banyak pada saat itu.




Pada saat dipimpin oleh HOS Cokroaminoto tahun 1912, SDI kemudian berubah menjadi Sarekat Islam dengan tujuan menghimpun organisasi dagang, yang kemudian memberikan perhatian besar terhadap penindasan yang dilakukan oleh kolonial Belanda.




Momentum Kesadaran yang kedua lahir mengiringi diresmikannya organisasi Budi Oetomo pada 20 Mei 1908 oleh Dr. Sutomo, Goenawan Mangoenkoesoemo, Soeraji, dan Wahidin Soedirohoesodo, yang memberikan semangat kepada mahasiswa dan kaum terpelajar lainnya untuk menjadikan Indonesia menjadi negara yang merdeka.




Ini yang menarik, dimana pemuda pada saat itu juga menjadi bagian dari semangat akan berdirinya Indonesia yang merdeka terjadi pada saat dilaksanakannya Kongres Pemuda yang dikenal dengan Sumpah Pemuda pada tahun 1928.






Peristiwa Sumpah Pemuda merupakan momentum kesadaran yang datang dari pemuda. Mereka sadar bahwa dengan membentuk ikatan yang kuat diantara mereka akan membawa Indonesia menjadi negara yang kuat, tidak lemah terhadap penjajah asing yang berupaya melemahkan jiwa nasionalisme kaum muda Indonesia.




Kekuatan akan kesadaran sebagai bangsa yang kuat semakin terlihat pada saat terjadi Pemberontakan Peta yang terjadi pada 14 Pebruari 1945, memberikan sinyal bahwa semangat juang rakyat Indonesia untuk merdeka sudah berada pada masa-masa puncak. Melihat adanya peluang kekalahan Jepang, pasukan Peta kemudian memanfaatkan momentum tersebut dan sekaligus mengangkat martabat bangsa bahwa kemerdekaan Indonesia adalah hasil perjuangan rakyat Indonesia, bukan dari “hadiah” yang diberikan oleh Jepang. Hal ini terlihat dari pencoretan kalimat “Indonesia akan Merdeka” diganti menjadi “Indonesia Sudah Merdeka” yang berada di Hotel Sakura, saat ini berganti nama menjadi Hotel Sri Lestari di Blitar.




Perjuangan itu terus dilakukan sampai pada akhirnya Indonesia dapat melegitimasi kemerdekaannya pada 17 September 1945. Kemerdekaan hasil jerih payah rakyat Indonesia atas penindasan di masa kolonial.




Namun, perjuangan belum selesai sampai disana kawan-kawan. Semangat persatuan tidak selesai sampai pada diproklamirkannya kemerdekaan Indonesia, namun semangat itu semakin muncul pada saat mempertahankan kemerdekaan. Seperti kata pepatah, mempertahankan lebih sulit dari membangun.




Hal ini ditandai dengan munculnya tokoh-tokoh pembela kemerdekaan. Contohnya adalah I Gusti Ngurah Rai, yang melakukan pertempuran terakhir dikenal dengan nama “Puputan Margarana”, yang artinya pertempuran habis-habisan bersama pasukannya (Ciung Wanara) pada tanggal 20 November 1946, sebuah pertempuran melawan penjajah yang kembali masuk ke Indonesia melalui Bali. I Gusti Ngurah Rai gugur pada peristiwa perang ini untuk mempertahankan Bali menjadi bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia, yang pada saat kesepakatan atas perjanjian Linggarjati, Bali menjadi bagian dari proyek Belanda dalam mendirikan Negara Indonesia Timur.




Ada Yos Sudarso. Ingat Trikora? Seorang Kepala Staff Angkatan Laut yang ikut terjun dan gugur di atas KRI Macan Tutul dalam operasi di wilayah Laut Aru, Papua. Gugurnya Yos Sudarso dalam peristiwa operasi Mandala merupakan salah satu usaha dalam mempertahankan kesatuan bangsa seutuhnya dengan membebaskan Irian. Walau dengan pangkat kemiliteran yang tidak tinggi, kesadaran berbangsa Yos Sudarso membuat ia lebih memilih bertahan di kapal perangnya daripada menyerah terhadap kekuatan penjajah. Atas keberaniannya itu, namanya kini diabadikan pada nama kapal perang (KRI) dan pulau.




Lalu ada Panglima Sudirman, seorang yang menjadi jendral pada saat usia 31 tahun, yang pertama dan termuda, yang melakukan gerilya dan berperang melawan penjajah walau sedang menderita penyakit tuberkolosis paru-paru yang parah. Rasa Nasionalisme yang ada pada sang Jendral tidak menyuruti perjuangan dalam mempertahankan Yogyakarta sebagai bagian dari NKRI walau sudah diminta penjajah untuk menyerahkan diri. Makamnya kini berada di Taman Makam Pahlawan Kusuma Negara, Semaki, Yogyakarta, sebagai penggugah masyarakat Indonesia betapa beratnya perjuangan Jendral Sudirman dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia.




Apa persamaan dari tokoh-tokoh tersebut? Mereka adalah angkatan muda yang tidak gentar melawan penjajah. Satu lagi sosok pemuda Indonesia yang berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia tercermin pada diri Bung Tomo, yang melakukan pidato untuk membakar semangat pemuda-pemuda pada saat itu. Yang luar biasa, Bung Tomo dapat menyatukan pemuda dari berbagai daerah, Maluku, Sulawesi, Kalimantan, Jawa, Irian dan Sumatera serta pemuda-pemuda di seluruh wilayah Indonesia dengan satu tujuan mempertahankan kemerdekaan.




Apa yang terjadi sekarang? Kenapa semangat mempertahankan kemerdekaan itu hilang? Apa karena tidak ada penjajah lagi? Kawan-kawan, sebenarnya penjajah itu masih ada, kita sedang dijajah, oleh perpecahan, konflik horizontal sesama masyarakat Indonesia, radikalisasi, dan kerusuhan lokal lainnya. Itulah yang terjadi pada kita sekarang.




Kenyataan sekarang, pola pikir persatuan sebagai bangsa Indonesia semakin menghilang. Tujuan untuk mempertahankan Indonesia ke fase masa depan agar menjadi lebih baik, bukan hanya ekonomi. Jika kalian menyalahkan ekonomi yang membuat rakyat miskin maka perangi itu semua, jadilah ekonom dan pengusaha sukses yang dapat membangkitkan perekonomian Indonesia.




Jika anda menyalahkan pemerintah, silahkan menjadi generasi yang cerdas, dengan belajar menggali ilmu yang bermanfaat agar ketika kalian telah dewasa, kalian dapat merubah ini.




Indonesia memiliki kultur budaya yang kuat dan mampu untuk dijadikan pelajaran bagi kita. Kultur budaya Indonesia memberikan pelajaran bagi kita untuk menghindari konflik dan kekerasan. Kita ambil contoh pada batik.




Batik yang telah diakui dunia sebagai warisan asli Indonesia memberikan pelajaran untuk selalu sabar, teliti, dan tekun. Coba kita bayangkan sedang membatik diatas kain polos, kalau tanpa kesabaran, ketelitian, dan ketekunan justru akan membuat batik yang kita lukis menjadi berantakan.




Dari nilai-nilai positif yang ada pada batik membuat kita selalu menjadi orang yang sabar dalam menjalani hidup, selalu teliti dan cermat dalam menerima informasi, terlebih informasi yang provokatif, dilihat dulu sumber dan permasalahan secara jelas. Dan dengan ketelitian akan menjadikan kita menjadi pribadi yang unggul dan sukses. Kekerasan dan perpecahan bangsa tidak akan terjadi jika selalu menjalankan nilai-nilai positif dari budaya bangsa.




Ada istilah seperti ini “Daripada anda meributkan kegelapan, nyalakan saja lilin untuk menerangi”, artinya kita diajak untuk berfikir sederhana, mencari solusi bukan menyalahkan.




Mari kita ubah pola pikir kita, walaupun kita melihat ada perbedaan suku, adat, budaya, ras maupun agama, tetapi kita sebenarnya sama, sebagai warga negara Indonesia, mulailah dari kita memberikan contoh memberikan semangat persatuan. Menjadikan Negara Indonesia tetap menjadi Negara Kesatuan.




*(Tulisan saya di dalam buku "serial Nusantara Birru-Wawasan Kebangsaan")



Referensi: 23 Journeys

Share this article :

Post a Comment

Support : Jalantapak | Jalantapak | Jalantapak | Jalantapak Template | Pusat Informasi
Copyright © 2017. Knowledge | Family - All Rights Reserved
Template Created by Jalantapak Modify by jalantapak.com
Proudly powered by Blogger