Selamat datang di Jalantapak.Com

Konflik Vertikal dan Horizontal

Friday, December 13, 20130 komentar




Pembaca, setiap hubungan sosial atau interaksi antar individu maupun kelompok pasti ada peluang melahirkan konflik sesuai dengan latar belakang permasalahanya, jika interaksi tersebut tidak dilakukan secara baik. Ada 2 macam jenis konflik yang biasa terjadi di tengah masyarakat kita, kedua jenis konflik itu adalah konflik horizontal dan konflik vertikal.
Konflik horizontal adalah konflik antara individu maupun kelompok yang biasa terjadi diantara individu atau kelompok yang memiliki status sosial yang sama. Konflik yang terjadi diantara sesama kelas, strata, nasib atau derajat yang sama. Sedangkan konflik vertikal adalah konflik yang terjadi antara individu atau kelompok yang memiliki kekuasaan, kewenangan dan status sosial berbeda. Nah, setelah kita ketahui maksud dari kedua konflik tersebut, sekarang apa sih contoh-contohnya? Mari kita bahas satu persatu.
 
Konflik Horizontal 
Kalau kita sensitif melihat keadaan sekeliling kita, maka akan banyak sekali konflik yang terlihat, mulai dari hal yang sederhana hingga rumit. Coba kita lihat contoh kasus lingkungan kita yang bisa dikelompokkan ke dalam konflik horizontal.


Contoh sederhana yang sering kali terlihat adalah adalah jika pembaca penggemar sepak bola. Saya yakin pasti banyak diantara pembaca yang suka dengan sepakbola. Di dalam pertandingan sepakbola contohnya, pasti ada yang namanya suporter bola donk?. Setiap tim sepak bola pasti memiliki suportermasing-masing, walaupun itu tim yang ada di kampong-kampung. Berbicara tentang suporter, kita tidak hanya berbicara hanya satu orang saja, melainkan ratusan, ribuan bahkan jutaan orang. Hal positif dalam suporteradalah rasa kompak dan persatuan yang luar biasa. Namun euphoria kompak tersebut kadang kala suka berlebihan dan tidak pada tempatnya. Di Indonesia, masih saja kita lihat kawan-kawan kita yang menjadisuporter salah satu tim sepak bola namun tidak bisa menahan amarahnya pada saat pertandingan berlangsung, sehingga kerap terjadi bentrokan dengan suporter lain, hanya karena tidak terima timnya kalah kemudian saling ejek dalam yel-yel. Mereka tidak segan untuk melukai suporter lain, saling timpuk, saling pukul dan melakukan berbagai kekerasan lainnya.
Kita beranjak ke arah yang lebih serius ya… pembaca pasti pernah mendengar tentang konflik di Lampung Selatan, tepatnya di daerah Kalianda. Di sana pernah terjadi konflik antara orang Lampung sebagai suku asli dan orang Bali yang dianggap suku pendatang. Masyarakat Lampung melihat ada persoalan dengan kehadiran sekelompok orang berasal dari Bali yang memiliki perbedaan kebiasaan, kultur dan agama. Secara umum, masyarakat dengan etnis Bali dapat dikatakan memiliki kesejahteraan ekonomi yang lebih baik dibandingkan dengan masyarakat asli Lampung yang merupakan “tuan rumah”. Kecemburuan sosial antara “pribumi” dengan “pendatang” menjadi pemicu munculnya konflik antar masyarakat yang berlainan suku tersebut.
Sobat Tabi, kasus-kasus konflik antar suku tersebut merupakan salah satu contoh dari konflik horizontal. Konflik antar suku juga pernah terjadi di wilayah lain antara lain konflik di Sampit antara sekelompok orang dari suku Madura dan Dayak, konflik di Aceh antara sekelompok suku Aceh dengan Jawa, bahkan konflik yang terjadi di ibukota negara kita, DKI Jakarta yaitu konflik antara orang-orang Betawi dengan Ambon.
Contoh konflik horizontal berikutnya dapat dilihat dari konflik agama yang pernah  terjadi di Indonesia. Indonesia merupakan negara yang memiliki 6 agama resmi, dan tercatat sebagai negara dengan pengakuan agama resmi terbanyak di dunia. Apabila kita melihat kondisi riel di lapangan, maka masing-masing agama juga kerap memiliki beragam kelompok aliran. Hal ini di luar adanya sekte-sekte dan penganut aliran kepercayaan yang telah tumbuh subur dalam budaya Indonesia. Melihat kondisi keragaman tersebut, tak jarang juga terjadi gesekan antar kelompok, sehingga kita kerap mendengar terjadinya konflik antar agama. Padahal masyarakat Indonesia selama ini dikenal sebagai masyarakat yang toleran. Agama Islam sebagai agama yang dianut mayoritas masyarakat Indonesia, selama ini dikenal sebagai agama yang toleran. Islam mengakui keberadaan kelompok lain diluar Islam. Namun apa daya? Saat ini, kondisi tersebut seperti tercoreng oleh gesekan-gesekan yang kerap terjadi belakangan ini.
Berbagai aksi kekerasan dalam agama, seperti penyegelan rumah ibadah secara sepihak, pembakaran rumah ibadah, peledakan hingga bom bunuh diri di dalam rumah ibadah, baik gereja, masjid hingga vihara yang banyak memakan korban jiwa, hampir seluruhnya memiliki alasan karena adanya kebencian terhadap pemeluk agama yang berlainan. Iiih, sereeem ya…
Jika melihat data dari Setara Institute, sebuah lembaga yang memantau kebebasan beragama di Indonesia, kekerasan agama di Indonesia mengalami peningkatan dari 224 kasus pada tahun 2011 menjadi 264 pada 2012. Ini menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia masih terlihat ‘gemar’ melakukan kekerasan dengan dalih agama. Data yang sama juga ditunjukan oleh Wahid Institute, yang menyatakan kasus kekerasan agama dilakukan oleh kelompok masyarakat dan kelompok organisasi massa (ormas) menunjukkan pada tahun 2011 terjadi 267 kasus kekerasan dan pada tahun 2012 meningkat menjadi 278 kasus. Sedangkan menurut data survei nasional Indeks Radikalisme Sosial Keagamaan di Indonesia 2010 yang dilakukan Lazuardi Birru dan LSI  juga menunjukan bahwa 1.3% dari responden yang merupakan representasi masyarakat Indonesia mengaku pernah melakukan tindakan kekerasan berupa penyerangan rumah ibadah agama lain; 2.6% mengaku pernah ikut melakukan sweeping ke tempat-tempat yang dianggap bertentangan dengan syariat Islam; dan 5.3% persen mengaku akan melakukan penyerangan terhadap rumah ibadah pemeluk agama lain apabila memiliki kesempatan. Coba deh hitung angka tersebut dari jumlah penduduk Indonesia. Bisa ga pembaca bayangkan berapa juta orang Indonesia yang pernah melakukan kekerasan? Apa yang terjadi dengan bangsa ini ke depan apabila kekerasan dibiarkan terjadi terus menerus? Hiiiiiiiii….Syereeeeeem yaa
 Apalagi sampai saat ini masyarakat Indonesia masih belum puas dengan langkah pemerintah menangani sejumlah konflik yang ada di negeri kita.  Hal ini tergambar dari hasil jajak pendapat yang dilakukan oleh Litbang “Kompas” Juli-Agustus 2013 dimana sebanyak 77,8% masyarakat belum puas terhadap pemerintah menangani konflik bernuansa agama, 77,8% bernuansa politik, dan 71,1% bernuansa etnis (warga asli vs pendatang).
 Beberapa kasus yang dapat kita lihat antara lain pembakaran rumah ibadah baik gereja maupun masjid seperti yang terjadi pada konflik di Poso, Sulawesi Tengah pada tahun 1998. Pada saat ini begitu banyak masjid dan gereja dibakar, dimana pada zaman Nabi Muhammad dan sahabat tempat ibadah itu justru sangat dihormati. Puncaknya pada tahun 2000 sampai 2001 dimana konflik agama sudah mengerucut kepada perang saudara. Begitu pula yang terjadi di Ambon pada tahun 1999-2002.
Kasus penyegelan, perusakan rumah ibadah hingga aksi peledakan, dan bom bunuh diri di dalam rumah ibadah yang mengarah kepada penganut agama lain juga menambah data kasus kekerasan horizontal di Indonesia. Coba deh, pembaca perhatikan, siapa yang menjadi korban sesungguhnya dalam setiap peristiwa kekerasan? Korban sesungguhnya adalah masyarakat Indonesia sendiri. Kalau kita perhatikan para pelaku kekerasan mayoritas adalah generasi muda. Mereka yang belum paham dan kuat menghadapi propaganda kelompok-kelompok pro-kekerasan. Banyak generasi muda yang kemudian menjadi pelaku kekerasan, padahal sesungguhnya mereka semua adalah sasaran empuk kelompok pro-kekerasan. Jadi mereka itulah korban kekerasan sesungguhnya. Banyak dari anak muda yang ingin mendalami ilmu agama, namun salah memilih kelompok. Tak jarang memasuki kelompok yang eksklusif dan kerap salah mengambil referensi nilai-nilai agama, atau salah mengikuti sosok pemuka agama, bukannya diajak untuk memahami nilai agama secara benar, malah diajak untuk membenci pemeluk agama lainnya. Jadi berhati-hati dalam memilih sosok pemuka agama untuk dijadikan panutan sangat diperlukan.
 
Konflik Vertikal 
Seperti yang sudah dijelaskan diatas, kekerasan vertikal merupakan kekerasan yang terjadi antara kelompok sosial yang memiliki strata berbeda di dalam masyarakat, ehmm sederhananya ya gak seimbanggitu deeh levelnya. Apa maksudnya ya???? Hmmmmm… terdengar berat ya, tapi nanti akan saya coba jelaskan dalam bahasa yang sederhana ya..
Contoh paling sederhana adalah konflik antara orang tua dan anak. Hirakhi antara orang tua dan anak merupakan contoh sederhana perbedaan status sosial. Orang tua dianggap sebagai orang yang memiliki kekuasan dan kewenangan tertinggi dalam keluarga, sehingga merasa semua keputusan ada di tangan ortu. Di satu sisi bener siiih, tapi apa anak sekarang selalu mau terima dengan kondisi itu? Uuups… Hehehehe…Hampir bisa dipastikan semua keluarga pasti memiliki konflik di dalam keluarga, seperti konflik antara orang tua dan anak. Benar gak?? Anak muda pasti pernah dong merasa bĂȘte dengan orang tuanya? Umumnya siiihkarena komunikasi yang gak nyambung ya… si anak maunya apa, ortu maunya apa. Trus, gak nyambung deeeh.. Kesel-kesel, si anak merasa ortu otoriter… Perasaan itu biasa terjadi koq. hehehe…. Seperti yang kita bahas di bab awal tadi, interaksi sosial itu kadang-kadang berdampak positif, kadang-kadang negatif berupa konflik. Yang membedakan hanyalah kadar dari konflik itu. Jika kadar konfliknya rendah maka dapat diselesaikan dengan hanya menahan diri. Orang tua maupun anak harus sabar dan menahan diri sampai konflik yang ada selesai.
Nah, kalau memiliki orang tua yang moderat sih biasanya gak masalah. Segala sesuatu tinggal dikomunikasikan dan didiskusikan bersama. Yang repot kalau orang tuanya konservatif, yang merasa anak harus selalu nurut dan patuh sama mereka, sementara si anak merasa “iiih, ortu gue jaduuul banget siiih… jaman khan udah berubah… yang tahu dunia sekarang khan gue…” Nah, ujung-ujungnya ribut deh sama ortu… hehehe…
Nah, bagaimana kalau kita ketemu konflik yang tingkatannya lebih tinggi? Kekerasan yang dilakukan oleh orang tua terhadap anak dalam skala yang lebih berat biasanya muncul karena ekspektasi salah satu pihak yang terlalu tinggi. Misalnya orang tua yang tidak senang dengan jeleknya nilai mata pelajaran yang diperoleh si anak, lalu orang tua memukul dan mengatakan bodoh kepada anak. Maksudnya orang tua sih baik, berharap agar anak memperbaiki nilainya. Namun yang terjadi adalah anak beranggapan bahwa dia bodoh, dan tidak termotivasi serta memiliki niat untuk memperbaiki kekurangannya. Sebaliknya, kekerasan juga bisa dilakukan oleh anak terhadap orang tua, seperti anak tidak diterima disuruh-suruh oleh orang tua, sehingga anak melawan dengan perlawanan lisan ataupun dengan perlawanan fisik menyakiti orang tua. Masya Allah, jangan sampai itu terjadi kepada generasi muda kita ya… 
Contoh konflik vertikal sederhana lainnya adalah kekerasan antara majikan dengan pembantu rumah tangga. Kedua pihak ini merupakan contoh pihak yang memiliki status sosial yang berbeda, hal ini lazim terjadi di tengah-tengah kita sebagai masyarakat. Apalagi di lingkungan yang konservatif dan feodal, pembantu bukan dianggap sebagai asisten untuk membantu mengerjakan pekerjaan rumah tangga, tapi kerap dianggap seolah perbudakan era modern. Kita tentunya sering mendengar berita di surat kabar tentang perilaku majikan yang kurang manusiawi dan kerap melakukan kekerasan terhadap pembantunya. Seorang pembantu yang kemudian merasa hak-haknya kurang dipenuhi oleh majikan, tidak dibayar gajinya atau hanya setengah dari yang seharusnya, tidak mendapatkan tunjangan makan yang layak, ruangan istirahat yang layak, pada akhirnya mereka melakukan pemberontakan-pemberontakan seperti merampas harta benda majikan atau melakukan penculikan anak majikan, bahkan ada juga pembantu rumah tangga yang melakukan kekerasan sebagai balas dendam kepada majikannya.
Yuuuk kita beranjak ke contoh yang agak lebih berat ya… Kekerasan vertikal berupa konflik antara buruh dengan pimpinan pabrik. Contoh yang dapat kita temui terakhir ini adalah kasus penyekapan pekerja di Tangerang yang dilakukan oleh pimpinan pabrik loyang, Yuki Irawan. Kita dapat melihat bagaimana 21 orang buruh tidak mendapatkan hak-haknya sebagai buruh yang pada akhirnya 2 orang diantara mereka melarikan diri dan berakhir dengan penggrebekan lokasi pabrik oleh pihak kepolisian. Kasus demonstrasi yang berakhir anarkhis oleh pekerja dan serikat pekerja kepada pimpinan perusahaan karena hasutan beberapa orang juga kerap kita lihat di berbagai media massa.
Konflik vertikal yang lebih berat melibatkan kelompok dengan kelompok bahkan antara kelompok dengan negara. Kita  dapat melihat beberapa kasus dari catatan sejarah bangsa Indonesia. Pertama, pada masa-masa awal kemerdekaan bangsa kita. Setelah kemerdekaan, selalu ada pihak-pihak yang merasa tidak puas. Sejarah mencatat adanya beberapa konflik antara pemerintah dan rakyat, antara lain pemberontakan terhadap pemerintah Indonesia yang sah. Kalian tentu masih ingat peristiwa pemberontakan DI/TII (Darul Islam/Tentara Islam Indonesia)? Mengapa kekerasan pada saat itu bisa terjadi? DI/TII beralasan melakukan pemberontakan terhadap pemerintah karena merasa bahwa Indonesia berhak untuk menggunakan hukum Islam dalam menjalankan kepemerintahan setelah kemerdekaan disebut, karena dilihat dari jumlah pemeluk agama Islam di Indonesia lebih banyak dari pemeluk agama lain.
Namun, ide ini sesungguhnya sebelum kemerdekaan, ide ini sudah pernah didiskusikan dan parafounding fathers kita memutuskan Indonesia sebagai payung untuk semua suku, agama san ras. Tidak puas dengan keputusan tersebut, sekelompok orang yang tidak puas memprovokasi untuk melakukan pemberontakan kepada pemerintah yang sah. Pemerintahpun kemudian melakukan upaya penangkapan bagi mereka yang menentang serta melakukan operasi militer bagi pihak DI/TII yang melakukan upaya perlawanan dengan senjata. Inilah contoh kekerasan yang terjadi pada saat Indonesia baru mendapatkan kemerdekaannya. Apakah kekerasan tersebut bisa dihindari? Tentu bisa saja... Melalui apa? Tentunya dengan dialog secara terbuka dan mencari solusi terbaik bagi seluruh masyarakat Indonesia yang terdiri dari berbagai kelompok ini. Apakah pembaca memiliki ide dan cara lain?
Contoh lain adalah Kasus Tanjung Priuk pada tahun 1984. Pemerintah pada saat itu berkonflik dengan kelompok masyarakat yang menolak dipaksa menganut ideologi Pancasila sebagai ideologi tunggal. Tokoh dan warga muslim yang tidak menyetujui pemaksaan ini melakukan aksi protes dan kritikan terhadap pemerintah. Kasus seperti ini sebenarnya dapat dihindari jika kedua belah pihak membuka ruang dialog dan tidak ada pemaksaaan kehendak atas pendapat yang dimiliki masing-masing. Pancasila seharusnya dapat diamalkan oleh masyarakat Indonesia berdampingan dan saling melengkapi, bukan dipaksakan apalagi dengan kekerasan, sehingga hak-hak setiap warga negara dapat difasilitasi secara baik, benar gak?
Kenapa muncul masalah tersebut?
Sekarang mari kita cari tahu, kenapa sih masih saja muncul kekerasan horizontal dan vertikal di tengah-tengah masyarakat kita? Seolah tidak ada habis-habisnya dan tidak ada solusi untuk menyelesaikannya.
Pembaca, sebenarnya konflik dan kekerasan itu sudah ada sejak Nabi Adam pertama kali diturunkan ke bumi. Pada saat itu anak-anak Nabi Adam yaitu Qabil dan Habil berselisih mengenai rencana pernikahan yang disampaikan ayahnya. Perselisihan ini kemudian berakhir dengan pembunuhan yang dilakukan Qabil terhadap Habil. Apakah sobat masih ingat tentang sejarah tersebut? Tapi yang ingin Tabi sampaikan disini adalah bahwa kekerasan yang terus bermunculan sampai saat ini bermula seperti apa yang terjadi atas perselisihan kepentingan antara dua individu seperti yang dicontohkan pada kasus Qabil dan Habil, sehingga melahirkan konflik.
Dari perselisihan antar individu jika tidak dapat diselesaikan dengan baik, maka hal tersebut berpotensi munculnya tindakan kekerasan dari salah satu pihak. Ketidakharmonisan antar individu yang dibiarkan secara terus menerus tanpa ada usaha untuk mendamaikannya akan menjadi semacam penyakit yang terus tumbuh menjadi radikal bebas, penyakit yang sudah sulit untuk disembuhkan, antar individu tersebut selamanya akan menaruh dendam tidak berujung. Lalu dari dendam individu yang dibiarkan terus menerus dapat membawa dampak kepada individu-individu lain dalam sebuah kelompok. Karena rasa solidaritas yang salah, maka sakit hatinya satu individu bisa menjadi sakit hatinya kelompok juga. Bingung? Saya ilustrasikan saja ya.
Masih ingat dengan kasus terakhir tawuran antar anak sekolah di Jakarta antara SMA 70 dan SMA 6 daerah Bulungan yang sampai memakan korban jiwa itu? Kita sangat prihatin bahwa kawan-kawan kita di Jakarta masih ada yang “gemar” melakukan aksi tawuran, padahal gara-garanya hanya sepele saja lho… Cuma memperebutkan tempat tongkrongan dan menunjukkan ke-eksisan kelompoknya masing-masing, ehakhirnya mereka saling ejek lalu merembet keaksi tawuran.
Dari ilustrasi ini pembaca bisa lihat kan bahwa kekerasan diantara kelompok kemungkinan besar terjadi karena disebabkan dari masalah antar individu yang kemudian berimbas kepada konflik kelompok. Keadaan inilah yang dapat mengkotak-kotakan mereka dengan perpecahan yang seharusnya sebagai sesama siswa yang terpelajar harus dapat bersatu membangun bangsa Indonesia sebagai bangsa yang cerdas dan terdidik, bukan terpecah-pecah dengan aksi kekerasan antar pemuda.
Ini hanyalah contoh kecil, banyak kekerasan yang melibatkan antar kampung, ras, suku, etnis, dan agama. Awalnya mungkin hanya perselisihan kecil antar individu tetapi berimbas pada pengkotak-kotakan kelompok. Jika sudah terkotak-kotak, sudah dipastikan persatuan akan hilang dan bangsa Indonesia akan mudah dijajah kembali oleh negara lain. Tidak akan ada lagi Indonesia sebagai negara yang besar. Inilah yang terjadi pada masa pendudukan penjajah pada masa Indonesia saat masih berupa kerajaan-kerajaan. Pada saat kerajaan-kerajaan di Indonesia mementingkan kekuasaan sendiri-sendiri sehingga sangat mudah dipengaruhi oleh hasutan bangsa luar yang tujuannya adalah memecah persatuan rakyat Indonesia dan menguasai negara kita tentunya.
Lalu biasanya apa sih yang melatar belakangi terjadinya kekerasan horizontal dan vertikal di Indonesia ini? Jawabannya bisa macam-macam, latar belakang terjadinya kekerasan bisa muncul dari beberapa faktor, misalnya ideologi, politik, ekonomi, sosial, maupun budaya. Nanti saya juga akan membahas bagaimana sikap kita seharusnya apalagi bagi anak muda jika melihat adanya kekerasan horizontal maupun vertikal di tengah-tengah masyarakat? Intinya sih yang terpenting adalah jangan sampai ada pembiaran jika melihat adanya konflik, terlebih lagi jika masih dalam perselisihan antar individu, jangan malah mengkompori, bukannya mengajak damai malah memperparah konflik yang sudah ada.
Hindari kekerasan antara dua orang atau kelompok dengan mencari solusi dan berpikiran jernih. Tidak ada satu persoalan pun yang tidak ada jalan penyelesaiannya. Pembaca semua pasti sepakat khan kalau Indonesia adalah negara hukum? Disaat kita melihat suatu kekerasan, jangan balas dengan kekerasan juga, tapi serahkan kepada pihak yang berwenang untuk menyelesaikannya. Istilah kerennya jangan main hakim sendiri. Yuuuk, sudah saatnya jadikan generasi muda Indonesia sekarang menjadi pelopor dalam mencegah kekerasan, berpikir jernih, dan mengajak masyarakat Indonesia untuk selalu mengedepankan toleransi.
Share this article :

Post a Comment

Support : Jalantapak | Jalantapak | Johny Template | Mas Templatea | Pusat Promosi
Copyright © 2017. Knowledge | Family - All Rights Reserved
Template Created by Jalantapak Modify by jalantapak.com
Proudly powered by Blogger