Selamat datang di Jalantapak.Com

Seri Liburan Gibran I: Naik Taksaka ke Jogja

Friday, January 3, 20140 komentar


Setelah launching Gibran di Aceh, kali ini Gibran melakukan launchingnya yang kedua di Jogja, kampung halamannya “mbah Uti”nya Gibran di Ponjong, Gunung Kidul, Jogja. Untuk transportasinya sudah jauh-jauh hari kita sepakat untuk menggunakan kereta api karena berbagai pertimbangan. Pertama, saya sendiri sudah lama tidak naik moda ini; Kedua, kemauan istri naik kereta api dengan jarak yang jauh; Ketiga, kenalin Gibran dengan ‘makhluk’ yang bernama kereta tentunya.

TV di Taksaka, disuguhi 2 Seri Home Alone selama perjalanan
Langkah pertama adalah pesan tiket, dan hal ini sudah saya lakukan jauh-jauh hari, tepatnya bulan September. Awalnya hanya saya, istri dan Gibran saja yang akan ke Jogja, tapi setelah saya memesan tiket Taksaka Pagi dan mbah Uti tahu kita ke Jogja, ternyata mbah Uti juga minat juga, temenin cucu katanya, hehe… Alhasil saya pesankan tiket untuk mbah Uti di Indomaret dekat rumah, dan sempat terkejut tiket Taksaka tinggal sisa 3 lagi, ya saya langsung issued saja lah. Mungkin lain ceritanya kalau saya harus ke Gambir dulu.

Kabin Taksaka cukup luas untuk koper
Tiba harinya untuk berangkat ke Jogja. Eyang Kakungnya Gibran mengantarkan kami ke Gambir, dengan 3 koper dan 3 tas jinjing, agak sedikit kerepotan juga membawanya dari lantai 1 ke lantai 2 stasiun Gambir, karena kita juga harus menggendong Gibran. Setelah berada di lantai 2 dan kami melihat eskalator untuk ke lantai 3 tidak aktif, akhirnya kami memilih menggunakan jasa porter untuk membantu kami. Setelah sampai di lantai 3 dan mendapatkan tempat duduk untuk menunggu kereta datang, porternya menanyakan mau sampai kereta datang atau tidak, memang berhubung masih satu setengah jam lagi dari keberangkatan kereta dan kereta sendiri memang belum datang. Setelah sepakat dan yakin bisa angkat sendiri kopernya ke kereta, kita memutuskan cukup di tempat menunggu kita saja, lalu mbah Uti menyerahkan Rp. 15.000 sebagai jasa porternya. Sebenarnya tidak ada tariff khusus untuk jasa porter, tapi masa iya Cuma dikasih Rp. 2000 perak atau Rp. 5000 perak untuk angkat bawaan segitu banyak?

Alas kepala motif batik khas Yogyakarta
Pada saat kereta datang, saya dan istri segera bergegas untuk menaruh koper di kabin atas tempat duduk kami, sementara mbah uti sama Gibran tunggu di peron. Kabin yang berada di gerbong cukup untuk menampung koper-koper bawaan kami karena memang luas, untuk AC di Taksaka ini juga cukup dingin sampai Gibran sendiri langsung dipakaikan jaket dan kaos kaki. Setelah duduk manis semua, tapi tidak untuk Gibran tentunya yang ‘ngusel-ngusel’ aja, tiba untuk Taksaka lepas landas.

Untuk interior kereta Taksaka ini saya nilai cukup oke untuk sebuah kereta eksekutif di Indonesia saat ini, tapi sebagai catatan, standar model interior Taksaka yang saya naiki ini berbeda untuk tiap gerbongnya, entah alasan apa kenapa tidak di samakan saja. Dari segi kebersihan kereta dapat dikatakan baik, apalagi perjalanan Taksaka kali ini juga ditunjang oleh 2 petugas kebersihan.

Colokan listrik, jangan khawatir kehabisan batrai gadget
Jangan mengharapkan makan atau minum gratis di Taksaka, karena semua makanan dan minuman di Taksaka dijual, dan ini menjadi standar baru untuk semua kereta eksekutif. Untuk harga setiap makanan bisa dikatakan hampir mirip sama harga sekelas di pesawat. Saya dan istri sempat memesan nasi goreng (lupa harganya), dan setelah di cicip istri komentar, “ini sih lebih ke nasi tim” tapi overall  untuk rasa boleh lah.

Lalu ke bagian toilet di gerbong 3 pada awalnya bagus-bagus saja dan bersih, namun setelah setengah perjalanan sudah terasa tuh bau ‘pesing’nya ditambah saluran pembuangan airnya mulai macet, akibatnya air jadi sedikit tergenang di lantai toilet. Ini berbeda pada saat saya mencoba toilet di gerbong 2, lebih bersih keadaannya, kesimpulan saya sendiri mungkin saluran airnya tersumbat oleh sampah tisu atau sampah padat lainnya, silahkan artikan masing-masing ya yang dimaksud padat itu apa, hehe… J

Potongan panorama alam dari jalur Taksaka
Selama perjalanan menuju Jogja dengan kereta ini yang dapat saya rasakan adalah kenyamanan, walau bawa si bayi Gibran dan di didalam gerbong juga banyak anak-anak, terbayar dengan pemandangan yang menakjubkan sepanjang jalan. Tidak terasa juga sampai pada akhirnya kita tiba di Stasiun Tugu Jogja dan sudah dijemput sama Mas Nono J

Nasi goreng (tim) khas Taksaka
Share this article :

Post a Comment

Support : Jalantapak | Jalantapak | Jalantapak | Jalantapak Template | Pusat Informasi
Copyright © 2017. Knowledge | Family - All Rights Reserved
Template Created by Jalantapak Modify by jalantapak.com
Proudly powered by Blogger