Selamat datang di Jalantapak.Com

Konsep Negara Dalam Islam

Tuesday, April 17, 20180 komentar





Wah, kali ini saya akan ngebahas tentang konsep negara? Apalagi ada ‘embel-embel’ Islamnya juga? Berat banget ya? Kawan-kawan semua, jangan pusing dulu ya, mari kita bahas tentang negara ini secara santai saja, untuk mengetahui apa itu negara.

Mungkin kawan-kawan pernah melihat berita melalui koran, televisi, internet ataupun radio, banyak kelompok-kelompok yang mengkritik tentang kebijakan negara bahkan sampai mengkritik konsep sistem pemerintahan negara kita. Memangnya apa yang salah ya? Sebelumnya, yuk, kita lihat dulu pengertian negara, tapi ingat jangan pakai pusing dulu ya. Pada akhirnya kita akan mengetahui hakikat dari sebuah negara Islam.

Beberapa tokoh memberikan sumbagsih pengertian tentang “Negara”, diantaranya, Benedictus de Spinoza, Harold J. Laski, Hegel, Prof Miriam Budiardjo. Beberapa teori tentang negara yang dapat disimpulkan dari tokoh-tokoh tersebut adalah sebagai berikut. Negara merupakan rasa persatuan tujuan, organisasi p0kok kekuatan politik, kelompok masyarakat yang memegang kekuasaan untuk mengatur hubungan antar manusia di dalam masyarakat dan menertibkan gejala kekuasaan di dalamnya. Dengan demikian, negara menyatukan dan membimbing berbagai kegiatan sosial penduduknya ke arah tujuan bersama.

Masih pusing juga? Hehe…, kita coba ilustrasikan ya. Selama ini kawan-kawan tinggal di rumah dengan yang namanya keluarga bukan? Dari sebuah keluarga, kalian melihat adanya keluarga lain yang tinggal di sekeliling rumah kalian, yang di sebut tetangga. Keluarga kalian yang hidup bertetangga ini ada yang mengaturnya, biasa disebut pengurus Rukun Tetangga (RT), diatasnya ada pengurus Rukun Warga (RW), yang bertanggungjawab ke Kelurahan, lanjut ke Kecamatan, Kabupaten, Kotamadya, Propinsi, sampai ke Ibu Kota pemerintahan.

Kenapa kok ada kepengurusan seperti itu yang mengatur sampai ke keluarga inti kita? Kepengurusan itulah yang disebut sebagai organisasi masyarakat, yang mengatur segala urusan masyarakat, jika tidak ada yang mengaturnya, maka suatu wilayah tidak bisa disebut sebagai sebuah negara. Contoh yang di atur oleh organisasi kemasyarakatan itu adalah mensahkan kalian sebagai warga negara Indonesia dengan diberikan nomor identitas kependudukan yang ada di sebuah kartu bernama Kartu Tanda Penduduk (KTP).

Nah, kawan-kawan, itulah arti sebuah negara, dimana dari individu-individu berkumpul menjadi sebuah kelompok dan menjalankan tujuan kelompok tersebut atas kesepakatan bersama.

Negara Indonesia merupakan wilayah yang terdiri dari masyarakat yang memiliki ragam kultur budaya, adat, ras, serta agama yang beragam. Semuanya termasuk kalian memiliki tujuan untuk membangun negara Indonesia menjadi lebih maju, lebih baik serta harmonis antar penduduknya, bukan begitu? Tentu saja tujuan dapat tercapai jika antar masyarakat di dalamnya dapat berjalan bersama.

Islam juga mengatur tentang membangun sebuah negara secara adil dan dapat menaungi semua kalangan. Namun, diantara saudara-saudara kita ada yang berpendapat bahwa Indonesia harus memakai rancangan sistem berbentuk Negara Islam. Lalu pertanyaannya, seperti apa sih Negara Islam itu? Apakah karena orang-orangnya banyak beragama Islam? Apakah mayoritas penduduk Indonesia adalah Islam, atau pakaiannya yang menggunakan baju koko, gamis atau wanitanya yang menggunakan jilbab? Hukumnya yang memakai aturan Islam? Ataukah, karakter orang-orangnya yang Islam? Yuk kita bahas lebih lanjut.

Sebelumnya, ada kisah menarik dari seorang tokoh Islam yang berasal dari wilayah Mahmudiyah, Mesir, bernama Hasan Al-Banna. Tokoh yang lahir pada tahun 1906 ini pernah mengunjungi negara di benua Eropa selama 1 bulan, salah satunya adalah negara Perancis. Setelah kembali ke Mesir, Al-Banna mengatakan bahwa ketika ia mengunjungi beberapa negara di Eropa, ia melihat Negara Islam, tetapi setelah ia kembali ke Mesir, yang dilihat adalah hanya kumpulan orang-orang Islam saja. Lalu apa yang sebenarnya dilihat oleh Al-Banna di Eropa sampai ia mengatakan ada Negara Islam disana? Apakah fisiknya? Atau nilai-nilai yang terkandung di negara-negara Eropa tersebut? Apakah kawan-kawan paham maksudnya?

Hasan al-Banna

Mari kita lihat salah satu contoh negara di Eropa, yaitu Swiss. Apa yang kalian ketahui tentang negara yang satu ini? Apakah cokelatnya? Banknya? Saljunya? Ataukah pisaunya?

Negara yang berdiri pada tahun 1848 ini hanya memiliki kawasan seluas 41.285 Km persegi, pemerintahannya berbentuk Republik Federal dengan demokrasi langsung tetapi diwakili oleh Majelis Federal. Swiss merupakan tempat yang paling aman di dunia karena sikap pemerintahannya yang netral terhadap negara luar. Karena keamanannya, pihak Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) memilih lokasi ini sebagai pusat aktifitasnya, walaupun memiliki gedung pusat di Amerika. Dampak lainnya, banyak pengusaha-pengusaha dunia menyimpan uangnya di bank yang diklaim sebagi bank teraman di dunia, yaitu Swiss Bank. Swiss tidak mempunyai tentara karena setiap warga Swiss sudah dilatih untuk menjadi tentara.

Satu lagi yang membuat Swiss maju ialah adanya kebijakan pemerintah yang membuat peraturan bagi warganya untuk patuh, dengan menerapkan sistem yang amanah, disiplin, serta mengedepankan nilai kejujuran. Tidak heran negara Swiss diakui sebagai negara yang memiliki tingkat kriminalitas yang paling rendah di dunia. Suasana yang nyaman di Swiss membuat negara ini menjadi tujuan wisatawan dari berbagai negara, dan faktor ini juga Swiss merupakan tempat lahirnya tokoh-tokoh terkenal, seperti Alferd Werner, ahli kimia abad ke-19, atau komposer ternama seperti Arthur Honeger, Ernst Levy, dan Conrad Beck.

Lalu mari kita lihat negara Jepang, apa yang kalian ketahui tentang negara ini? Jepang memiliki luas wilayah sekitar 377,944 Km persegi, bentuk pemerintahannya Monarki Konstitusional dengan simbol adanya seorang Kaisar disana, namun kesehariannya negara ini diatur oleh Parlemen Jepang yang dipimpin oleh Perdana Menteri dengan sistem Parlementernya. Jepang memiliki budaya malu yang tinggi, masyarakat Jepang selalu hidup dengan kejujuran baik terhadap diri sendiri maupun kepada orang lain, maka wajar orang Jepang selalu tepat waktu dan gesit, karena keinginan mereka untuk meningkatkan kualitas hidupnya, inilah sebuah ajaran yang dinamakan Samurai, salah satu ajaran budaya tertua di Jepang.

Negara Jepang sempat hancur di bom atom pada tahun 1945 di kota Hiroshima (6 Agustus 1945), dan kota Nagasaki (9 Agustus 1945). Namun dengan semangat dan kegesitannya itu, masyarakat Jepang mampu membangun kembali kotanya, sampai pada akhirnya maju seperti saat ini.

Bahkan 20 tahun setelah di bom, Jepang mampu menyelenggarakan Olimpiade di Tokyo pada tahun 1964. Penyelenggaraan ini menjadi sejarah Olimpiade yang terselenggara di benua Asia untuk pertama kalinya. Dan untuk membantu kelancaran transportasi selama perhelatan Olimpiade berlangsung, Jepang mengoperasikan kereta super cepat pertama di dunia yang dinamakan kereta Shinkansen.

Semua kemajuan tersebut dapat dilakukan oleh masyarakat Jepang karena mempertahankan budaya yang baik, yang menyebabkan nilai-nilai kejujuran, disiplin, amanah serta nilai moral mereka menjadi tinggi.

Sekarang, dari kedua contoh negara itu mari kita lihat nilai-nilai kebaikannya. Negara Swiss memiliki tingkat kejujuran, keamanan dan kepatuhan yang tinggi. Semua karakter tersebut tercipta dari sistem negaranya yang baik. Sedangkan, negara Jepang memiliki kedisiplinan dan kultur budaya yang khas seperti budaya malu.

Dari kedua contoh negara tersebut dapat kita pahami pernyataan Hasan Al-Banna sebelumnya, ia melihat negara Islam di Eropa. Nilai-nilai kebaikan yang ada di Swiss dan Jepang merupakan nilai-nilai kebaikan yang juga diajarkan di dalam Islam. Kesimpulannya, kita bisa bilang bahwa kedua negara itu bukanlah bentuk negara Islam, tetapi nilai-nilai kebaikannya merupakan ajaran yang ada di Islam.

Namun, kedua negara tersebut kejayaannya belum sampai 1 abad lamanya, lalu adakah negara lain yang memiliki kejayaan dimana nilai-nilai kebaikannya bukan datang dari sistem dan budaya, melainkan dari kepatuhan terhadap Tuhan mereka yang berlangsung selama berabad-abad?

Sebelum masuk kesana, tidak ada salahnya kita belajar sejarah? Dalam hal ini kita akan mempelajari sejarah Islam. Kita akan sedikit mengupas perkembangan peradaban Islam, karena dari sini kita akan menemui negara yang memiliki nilai kebaikan atas dasar kepatuhan kepada Tuhan tersebut.

Dimulai dari peristiwa Hijrah Nabi Muhammad SAW dan pengikutnya pada tahun 622 M ke Madinah (yang kemudian pada masa kekhalifahan Umar bin Khatab, peristiwa ini ditetapkan sebagai awal dari penanggalan Islam). Dapat dikatakan peristiwa inilah yang merupakan asal mulanya perkembangan Islam. Kedatangan Nabi Muhammad disambut meriah oleh penduduk setempat, tidak hanya oleh umat Islam, melainkan umat Yahudi dan Nasrani juga menantikan kedatangan Nabi Muhammad.

Atas dasar kepercayaan dan melihat kenyataan di Madinah terdiri dari berbagai pemeluk agama selain Islam, maka Nabi Muhammad membuat suatu peraturan penting yang disebut Piagam Madinah, yang berisi kesepakatan damai, menerima perbedaan, menghormati agama lain dengan memberikan jaminan keselamatan dan perlindungan  dalam hal melakukan ritual ibadah mereka. Disini hak-hak selain umat Islam tidak dikurangi, tidak boleh diasingkan serta wajib ditolong jika diserang oleh musuh.

Namun, situasi damai ini rupanya dikhawatirkan oleh kelompok-kelompok orang munafik yang beralasan dengan adanya Perjanjian Madinah tersebut, kekuatan umat Islam akan semakin bertambah. Dengan kekhawatiran tersebut, terjadilah 2 pemberontakan yang dilakukan oleh kelompok munafik tersebut. Yang pertama oleh suku Bani Qainuqa, dengan melakukan pembunuhan terhadap seorang pemeluk Islam yang berusaha menolong wanita Arab dari gangguan orang-orang Yahudi.

Kedua, dilakukan oleh Bani Nadhir, yang berusaha untuk membunuh Nabi Muhammad ketika beliau datang dan meminta bantuan mereka untuk urusan diyat (tebusan) orang-orang Bani Kilab yang dibunuh oleh ‘Amr bin Umayyah Adh-Dhamari.

Menanggapai perlakuan dari Bani Qainuqa dan Bani Nadhir, Nabi Muhammad kemudian melakukan langkah tegas dengan mengusir mereka dari Madinah, perdamaian pun dapat kembali terjaga.

Piagam Madinah

Kehidupan di Madinah semakin beradab setelah dipimpin oleh Nabi Muhammad, dan pengaruh Islam pun terus berkembang pesat. Dengan perkembangan Islam ini, usaha-usaha dari musuh Islam terus dilakukan, salah satunya adalah dengan penghadangan umat muslim untuk beribadah umrah. Utusan Quraisy, Suhail ibn Amr melakukan perundingan dengan Nabi Muhammad dengan isi gencatan senjata, tidak melakukan peperangan dan umat Islam dipersilahkan untuk menunaikan ibadah umrah di tahun berikutnya. Perjanjian inilah yang disebut sebagai Perjanjian Hudaibiyah.

Perjanjian ini di usulkan oleh para pemimpin Quraisy untuk menghindari pengikut Quraisy memeluk Islam dan menghindari peperangan dengan umat Islam yang pengikutnya sudah semakin besar.

Tetapi perjanjian Hudaibiyah ini kemudian dilanggar dengan adanya suatu peristiwa penyerangan disertai yang dilakukan oleh Bani Bakr yang mengikuti agama suku Quraisy terhadap Bani Khuza’ah yang merupakan pengikut Nabi Muhammad ketika sedang beristirahat dalam perjalanan untuk berumrah.  

Mendengar kabar tersebut, Nabi Muhammad kemudian mengambil keputusan untuk memasuki kota Mekah sebagai upaya membebaskan pengaruh Jahiliyah yang sudah lama mempengaruhi penduduk Mekah. Dengan kekuatan yang besar, Nabi Muhammad dengan mulus dapat menguasai kota Mekah dan menghancurkan berhala-berhala sebagai simbol kejahiliyahan.

Cara-cara yang dilakukan Nabi Muhammad dalam merebut kota Mekah sangat jauh dari tindakan kekerasan, dengan dakwah yang sudah di dapatkan dari Nabi, umat Islam dapat menahan nafsu untuk membalas dendam apa yang telah diperbuat oleh para pengikut suku Quraisy terhadap umat Islam sebelumnya. Umat Islam dapat menjamin keselamatan seluruh penduduk Mekah karena tujuannya hanya menghapus pengaruh ajaran-ajaran jahiliyah dan mendapatkan kebebasan untuk beribadah.

Dari peristiwa Fathul Makah inilah kemudian Islam berkembang dengan pesat, yang kemudian diteruskan oleh sahabat-sahabat Nabi Muhammad, seperti Khalifah Abu Bakar, Umar Bin Khattab, Usman bin Affan, serta Ali bin Abi Thalib. Penyebaran ini terus meluas selain di seluruh jazirah Arab, juga ke Persia, Mesir, Afrika dan menuju ke daratan Eropa seperti Spanyol pada masa Bani Umayyah. Lalu menyebar lagi ke wilayah Turki di masa Sultan Muhammad Al-Fatih, Sultan ke 7 Turki Utsmani yang pada usia muda sekitar  15-17 tahun mampu menaklukan Konstantinopel pada tahun 857 H/ 1453 M.

Ada satu wilayah yang dipengaruhi oleh ajaran Islam yang kemudian berkembang tidak hanya dalam ritual ibadah saja melainkan juga dari sisi ilmu pengetahuan dan budaya masyarakatnya, yaitu di Andalusia di wilayah Andalusia, yang saat ini kita kenal dengan wilayah Spanyol. Tokoh Islam yang mampu masuk dan menguasai wilayah ini adalah panglima perang dari Dinasti Umayyah di Damaskus, Thariq bin Ziyad, yang bergerak atas dasar keinginan untuk memberikan rasa keadilan bagi penduduk setempat yang telah direbut hak-hak mereka oleh bangsa Gotic, Jerman.

Setelah berhasil menduduki Andalusia, kaum Muslimin kemudian menyebarkan dakwah Islam dan membangun peradaban ilmu. Yang kemudian muncullah para ilmuwan Islam seperti Ibnu Sina, dalam bidang kedokteran, Ibnu Rusyd, dalam bidang matematika, Ibnu Batutah, tokoh sejarah yang terkenal mengelilingi dunia melebihi jalur Marcopolo, serta imuwan Islam penting lainnya.

Andalusia mengalami masa kejayaan hampir 500 tahun, mengubah salah satu wilayah Eropa ini menjadi bangsa yang maju. Di saat jalan-jalan di Perancis, Inggris, Amerika dan negara-negara Eropa lainnya belum bagus, di Andalusia sudah memilikinya bahkan yang lebih hebatnya tersedia air bersih di sepanjang jalan.

Lalu kira-kira apa yang bisa membuat Andalusia begitu berkembang? Ini jawabannya, mereka tidak menyebutkan Andalusia sebagai negara Islam, walaupun karakter penduduknya mencontoh Nabi Muhammad ketika di Madinah.

Masyarakat di Andalusia terdiri dari kaum Yahudi, Kristen dan Muslim, namun diantara mereka tidak ada saling pertikaian dan saling hidup toleran dengan saling menghargai. Kemajuan ilmu pengetahuan sangat mempengaruhi sikap mereka yang selalu menggunakan akal daripada nafsu. Umat Yahudi diberikan kebebasan untuk beribadah dengan menggunakan bahasa asli mereka, bahasa Ibrani. Hidup toleransi juga dapat dilihat dari segi arsitektur bangunan dengan memadukan budaya Islam dan Barat yang menjadi dasar bangunan masjid maupun gereja.

Kaum Muslim Andalusia melakukan hal tersebut karena kecintaan terhadap Allah SWT, yang menyebabkan mereka takut jika berbuat kerusakan, tidak berbuat adil, maupun melakukan ancaman atau pembunuhan terhadap sesama manusia.

Lalu kebiasaan-kebiasaan di Andalusia dimana masyarakatnya tidak mengenal kehidupan malam, serta didukung dengan memulai aktifitas pada pukul 03:00 pagi sebelum waktu subuh, menjadikan mereka memiliki tingkat kualitas hidup yang baik.

Dengan bermunculannya tokoh-tokoh Islam dari Andalusia menunjukkan bahwa pemerintahan Islam di sana mendukung perkembangan budaya Islam dan ilmu pengetahuan, serta menghargai setiap karya yang dihasilkan oleh ilmuwan. Akhlak perilaku diatas kemudian dicontohkan bagi semua masyarakat di sekitarnya.

Kesimpulannya, bahwa yang terpenting dalam membangun sebuah negara yang Islami adalah nilai-nilai kebaikan yang ada di masyarakatnya, baik dari sifat maupun perilaku. Menjadikan akhirat sebagai visi utama dari dunianya sehingga dapat tercipta negara yang memiliki sifat Akhlakul Karimah.

Kebaikan-kebaikan tersebut tidak akan mungkin kita wujudkan di negara lain, karena kita memiliki bangsa sendiri, yaitu Indonesia. Disinilah kita dapat mewujudkannya. Negara yang kita impikan penuh dengan nilai-nilai ke Islaman namun tetap dalam konteks sebagai bangsa Indonesia, mewujudkan Indonesia yang dijalankan dengan akhlak yang diajarkan Islam.

Keanekaragaman yang ada di Indoneisa sudah merupakan modal dan kekuatan tersendiri untuk menjadi bangsa yang maju. Dengan nilai-nilai yang ada di Islam sebagai perekat universal dengan saling menghargai. Nilai-nilai toleransi yang telah dicontohkan oleh para pendiri bangsa sudah seharusnya kita teruskan.

Indonesia memiliki kekayaan yang melimpah. Apa yang tidak ada di Indonesia? Negeri khatulistiwa dengan keberadaan 13.000 pulau memiliki sekitar 9 juta ton kandungan ikan per tahun, 97 Milyar barrel minyak cadangan (baru digunakan 1,2 juta barrel/ hari), baja terbaik di dunia, bahan tekstil bermutu di dunia, negara nomor 6 terkaya dengan sumber daya tambang, terbanyak kedua untuk jenis burung sebanyak 114 jenis, nomor 1 di dunia untuk keragaman mamalia (185 jenis), nomor 3 dunia untuk hutan hujan tropis terluas (887.440 Km2), penghasil emas terbanyak ketujuh (157.5 ton), sampai penghasil karet terbanyak kedua (2.921.872).

Semua kita miliki, Allah telah memberikan anugerah di negeri ini dengan sumber daya alamnya, namun sayangnya kita tidak bisa menjaga, merawat serta mengelolanya dengan baik. Pendiri bangsa kita telah mewariskan panduan dalam menjalankan dan menjaga negeri ini, dengan Pancasila.

Ya, Pancasila sebagai perekat bangsa yang tergambar dari sila-silanya, ada yang hafal? Sila pertama, menggambarkan tauhid atau keimanan. Sila kedua mengajarkan kita untuk adil dan disiplin dengan menggunakan adab kebaikan. Sila ketiga menjaga persatuan dengan mengedepankan kepentingan bangsa tanpa adanya egoisme pribadi ataupun kelompok. Sila keempat mengajarkan kita untuk memberikan kepercayaan kepada wakil-wakil kita dengan memberikan kekuatan untuk menjalankan kepentingan masyarakat. Dan sila kelima sebagai tujuan akhir seperti halnya tujuan yang diajarkan Islam yaitu menjadi negara yang adil bagi seluruh manusia, dan memberikan kesejahteraan. Inilah yang dinamakan nilai-nilai Islam dengan semangat ke Indonesia-an, atau membangun nilai-nilai Indonesia dengan semangat Islam.

Kawan-kawan, sesungguhnya kejayaan Indonesia ada ditangan kalian, jangan biarkan negeri yang kita cintai ini semakin terpuruk, mari kita tanamkan pola pikir cinta akan tanah air untuk bangkit membangun bangsa. Pola pikir baru dimana nilai-nilai Islam ada dan menjadi bagian dari Indonesia. Indonesia yang heterogen dan memiliki banyak penduduk namun dapat hidup berdampingan dalam nilai-nilai yang universal. Itulah cinta kita untuk Indonesia.


*)Tulisan Penulis ini ada dalam buku serial Nusantara Birru (Tabi)
Share this article :

Post a Comment

Support : Jalantapak | Jalantapak | Jalantapak | Jalantapak Template | Pusat Informasi
Copyright © 2017. Knowledge | Family - All Rights Reserved
Template Created by Jalantapak Modify by jalantapak.com
Proudly powered by Blogger