Selamat datang di Jalantapak.Com

Loyalitas itu apa sih?

Sunday, May 6, 20180 komentar






Kerjasama, seringkali kita mendengar kata ini. Dalam melakukan kerja kelompok untuk mengerjakan tugas sekolah, kita melakukan kerjasama untuk menyelesaikan tugas itu. Di masyarakat, juga tidak terlepas dari yang namanya kerjasama, contohnya melakukan kerja bakti. Atau dengan keluarga kitapun diharuskan melakukan kerjasama, misalkan dalam menjaga kebersihan rumah. Dari kerjasama itulah muncul suatu nilai yang penting, yaitu loyalitas.
Jika melihat dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), istilah loyalitas berasal dari kata patuh atau setia yang memiliki arti suka menurut, taat terhadap perintah, ataupun teguh hati.
Selanjutnya, sebenarnya kepada siapa kita harus menunjukkan loyalitas, kepada teman, masyarakat, keluarga atau pacar? Lalu, kepada siapa yang lebih utama? Disamping itu juga loyalitas selain berdampak positif, dapat juga berdampak negatif, kok bisa…?, yuk kita cari tahu semuanya, kita cari tahu makna dari loyalitas itu sendiri dan seberapa pentingkah loyalitas di dalam kehidupan sehari-hari.
Sebelumnya, mari kita lihat pentingnya loyalitas kepada orang atau pihak terdekat kita. Pertama, Loyalitas kepada teman, tentu hal ini perlu kan? Lo… gue.. friend, hehe.., untuk berteman kita harus kompak, menunjukkan kebersamaan, misal dalam menyelesaikan tugas kelompok, kalau mau selesai tugasnya kita harus loyal satu sama lain dong. Namun ternyata ada negatifnya juga jika terlalu loyal, misalkan diajak untuk dugem (dunia gemerlap), tawuran, menggunakan narkoba, mencuri dan yang lainnya. Kalau kita gak mau ikutan kita akan di kucilkan dan akhirnya timbul kalimat “lo…gue…end.
Lalu loyal dengan kelompok, perlu dong, tapi ada positif dan negatifnya juga. Sisi positifnya, kalau kelompoknya bagus maka banyak hal yang dapat dikerjakan bersama-sama, seperti gotong-royong pembersihan jalan, kerja sosial dan yang lainnya. Tetapi sisi negatifnya, jika kita berada di kelompok yang salah, bisa jadi kita diajak untuk korupsi bersama, melakukan tindakan brutal semacam tawuran, jika kita tidak ikutan dianggap nggak setia, membelot, memberontak, dan lainnya.
Loyal kepada orang tua, sangat perlu bahkan wajib, tetapi gimana jika orang tua kita mengajak ke hal-hal yang negatif , mengajak kepada kesesatan atau syirik (main dukun, ilmu, guna-guna), atau disuruh melakukan perbuatan buruk seperti mencuri, memukul atau mengejek, apakah kita masih akan loyal? Silahkan dijawab sendiri ya.
Lalu bagaimana loyal kepada pacar? Wuah,,, sampai dibelikan barang kesukaan sang pacar, bahkan rela hutang demi kegemaran sang pacar, kawan-kawan ada yang seperti itu? Bagaimana jika loyal digunakan secara negatif, kira-kira begini, hubungan bebas dilakukan karena sang cowok bertanya seberapa besar cinta sang cewenya, seberapa setianya, akhirnya diserahkan semuanya …, yah kawan-kawan bisa menyimpulkannya sendiri kan, ingin membuktikan loyalitas malah kebablasan.
Jadi, apakah perlu kita harus loyal kepada teman, kelompok, atau orang tua? Perlu dong, kita perlu kehadiran mereka di dekat kita, dengan memberikan keloyalan kita, mereka akan selalu ada buat kita, apalagi loyal kepada pacar, hehe… Tetapi jika mereka menyuruh kita untuk melakukan perbuatan jahat apakah menjadi diperlukan lagi? Bisa-bisa kita terkena hukuman lalu masuk penjara, yang lebih parahnya lagi masuk ke dalam neraka, hiii… Jadi sebenarnya kepada siapa kita harus loyal?
Dari gambaran diatas, apakah kawan-kawan bisa menyimpulkan sendiri, sebenarnya loyalitas itu lebih kepada fisiknya atau sifatnya sih? Ya benar, ternyata loyalitas dilihat dari sifat-sifat atau nilai-nilai kebaikan yang ada di dalamnya, seperti kejujuran, kasih sayang, kepedulian dan cinta kasih. Kalau nilai-nilainya negatif, salah, ya harus kita tinggalkan “say goodbye”.
Manfaat yang didapatkan dari melihat nilai-nilai kebaikan akan membuat kita selalu bijaksana, melihat tanpa persepsi yang negatif. Lalu siapakah pihak yang selalu memberikan nilai kebaikan? Ada, yaitu Allah SWT. Sebenarnya ada ikatan yang kuat antara kita dan Tuhan. Di dalam Al-Qur’an kita diingatkan untuk selalu berpegang kepada ajaran yang diperintahkan Allah, yaitu agama. Ingatkah kawan-kawan, sebelum Islam masuk, banyak suku-suku di Mekah dahulu hidup sendiri-sendiri, tidak mau bersatu, lalu datanglah Nabi Muhammad dengan ajaran Islamnya, mempersatukan suku-suku dan akhirnya menjadi umat Islam yang besar saat ini.
Menurut pendapat tokoh Islam Yusuf Al-Qaradhawi, loyalitas harus ditunjukkan kepada Allah SWT, Rasul-Nya, serta kaum mukminin yang disebut juga dengan istilah Al-Wala. Sedangkan kebencian seharusnya ditujukan kepada musuh-musuh Allah SWT dan Rasul-Nya, serta musuh-musuh kaum muslimin, yang disebut juga dengan istilah Al-Bara.
Maksud dari pendapat tersebut, dapat diartikan bahwa sifat dari nilai loyalitas itu adalah untuk menyeimbangkan, jika ada suatu peristiwa yang bertentangan atau melanggar nilai kebaikan dari Allah SWT atau nilai-nilai kemanusiaan di masyarakat, maka akan muncul suatu tindakan untuk mengembalikan nilai kebaikan yang telah dilanggar tersebut. 
Di sekitar kita banyak terjadi ketidakadilan, salah satunya contohnya adanya publikasi kartun Nabi Muhammad yang ada di surat kabar terbesar di Denmark, Jyllands-Posten pada 30 September 2005, dimana seluruh umat Islam mengecamnya. Melihat ada nilai-nilai sensitif agama Islam yang dilanggar, membuat semua perbedaan yang ada diantara umat Muslim hilang seketika, tidak ada Sunni-Syiah, moderat-liberal, kanan-kiri, garis keras-fundamental, atau apapun namanya, semua bersatu memperotes adanya kartun tersebut.
Ketidakadilan juga dialami seorang ibu rumah tangga bernama Prita Mulyasari pada tahun 2009, dimana prita membagi informasi melalui milis tentang nilai-nilai keadilan yang dilangar berupa hak sebagai pasien untuk mengetahui hasil pemeriksaan tidak dapat dipenuhi oleh pihak rumah sakit, dan pihak pengadilan justru memberikan vonis bersalah kepada Prita untuk kasus pencemaran nama baik. Tanpa komando, secara bersamaan masyarakat bergerak memprotes ketidakadilan tersebut dalam bentuk penggalangan koin keadilan untuk Prita.
Kawan-kawan, sifat loyalitas bukan hanya sebatas ditunjukkan dengan sikap melawan ketidakadilan, melainkan juga ditunjukkan bagaimana sisi kemanusiaan di setiap individu dapat muncul dalam melihat suatu peristiwa bencana atau peristiwa yang memakan korban jiwa tanpa memandang pangkat kedudukan, budaya maupun warna kulit.
Masih ingat peristiwa berbagai peledakan bom yang ada di Indonesia? Salah satu yang paling parah terjadi di Bali bahkan tidak hanya sekali di daerah itu diantaranya pada tanggal 12 Oktober 2002 dan 1 Oktober 2005. Semua agama, suku, budaya, bahkan negara mengutuk tindakan tidak terpuji itu, karena adanya salah satu hak yang dilanggar ketika itu yaitu hak untuk hidup secara damai. Seluruh masyarakat bahau-membahu membantu para korban gugur yang tidak hanya dari Indonesia saja, melainkan juga dari Australia, Inggris, Jepang, Brasil, Taiwan dan negara-negara lainnya
Bangsa Indonesia juga pernah terkena  bencana Tsunami di Aceh. Melihat tragedi tersebut dengan banyaknya memakan korban jiwa, seluruh masyarakat tanpa komando membantu saudara-saudara kita yang ada di Aceh, bantuan tidak hanya datang dari masyarakat Indonesia saja melainkan dari masyarakat mancanegara. Tidak memandang agama ataupun budaya, semua tergerak membantu membangkitkan kembali semangat warga Aceh membangun kembali daerahnya.
Hati kita pasti tidak terima, jika melihat ada yang salah, dan akan merasa tergerak hatinya untuk memperbaiki kesalahan tersebut. Melihat ada nilai-nilai yang dilanggar, dengan otomatis hati kita akan merespon, dan hilanglah segala perbedaan. Itulah sifat-sifat kebaikan, nilai-nilai yang datang dari sifat Allah, untuk menjadikan Rahmatan lil alamin.
Kawan-kawan, cahaya agama adalah nilai-nilai sebenarnya, berpegang erat kepada tali agama, untuk menjadikan diri kita bijaksana. Berpikirlah secara luas dan menyeluruh, sehingga kita dapat terhindar dalam loyal kepada fisik, yang dapat membutakan hati kita dan menjerumuskan kita ke dalam api neraka.
Ingat, loyalitas kita yang benar hanya kepada sifat-sifat Allah, kita bisa mengambil nilai-nilai mulia yang Allah ajarkan kepada kita melalui sebutan panggilanNya dalam Asmaul Husna, Ar-Rahman; Maha Penyayang,  Al-Wasi; Maha Luas, As-Shobur; Maha Sabar, Al-Ghofur; Maha Pengampun, Al-Jabbar; Maha Perkasa, dan panggilan-pangilan baik lainnya. Nilai luhur itulah yang harus dan wajib loyal kepadaNya.
Jadi kawan-kawan, yuk…, kita tetap berpegang kepada nilai-nilai Illahiah, bukan loyalitas semu kepada genk atau kawan yang suatu saat bisa membawa kita ke hal-hal yang negatif, atau kepada apapun yang tidak abadi, dengan begitu kita akan dapat menjaga persatuan umat, baik sesama umat Muslim maupun lainnya, karena di dalam nilai-nilai kebaikan dari Allah membuat kita sama dan membawa nilai-nilai universal yang penuh kebajikan.

Share this article :

Post a Comment

Support : Jalantapak | Jalantapak | Jalantapak | Jalantapak Template | Pusat Informasi
Copyright © 2017. Knowledge | Family - All Rights Reserved
Template Created by Jalantapak Modify by jalantapak.com
Proudly powered by Blogger