Selamat datang di Jalantapak.Com

Propaganda Kekerasan

Friday, May 18, 20180 komentar





Kali ini kita akan mengetahui bahaya dari ajakan untuk melakukan kekerasan melalui berbagai cara baik secara langsung maupun tidak langsung. Sebelumnya, mari kita cari tau arti dari propaganda. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), propaganda memiliki arti paham atau pendapat baik yang benar maupun salah yang dikembangkan dengan tujuan meyakinkan orang agar menganut tindakan atau sikap tertentu.
Kata “kekerasan” sendiri berasal dari kata baku “keras”. Arti kekerasan adalah perbuatan seseorang atau kelompok orang yang menyebabkan cedera atau matinya orang lain atau menyebabkan kerusakan fisik atau barang orang lain. Jika digabungkan, propaganda kekerasan memiliki pengertian suatu paham yang disampaikan kepada orang lain untuk melakukan suatu tindakan yang dapat mencederai orang atau bentuk fisik lainnya seolah paham tersebut merupakan suatu pembenaran.
Contoh-contoh propaganda kekerasan itu sendiri ada di negara kita misalnya kasus perebutan lahan atau penggusuran rumah, bahkan tawuran antar pelajar dapat disebut sebagai hasil dari propaganda kekerasan.
Tidak jarang pemuda yang labil alias ababil, hehe…, sangat gampang salah paham atau salah persepsi dalam melihat suatu kejadian atau melakukan tindakan, niatnya serius dikira becanda, niatnya becanda dikira serius, contohnya tawuran, kenapa bisa terjadi hal itu? Ya, rata-rata terjadinya tawuran karena saling becanda atau ejek-ejekan, benar atau betul? Karena candaanya itu ditanggapi serius, maka terjadilah tawuran.
Efek yang ditimbulkan karena salah persepsi ini bisa berdampak serius lho. Dampaknya akan menimbulkan kekerasan tidak hanya melibatkan individu saja melainkan dapat melibatkan masyarakat yang lebih banyak. Terlebih kalau salah persepsi itu karena masalah ideologi atau tentang prinsip hidup seseorang, menghina atau dihina dari agama, suku, atau budaya tertentu, bisa-bisa rela mati membela deh….
Indonesia yang dimata orang luar sangat ramah dan selalu mengedepankan sopan santun nyatanya paling gampang terlibat konflik atau kekerasan. Dari data berbagai lembaga penelitian di antaranya Institut Titian Perdamaian, Moderat Moslem Society, dan Lazuardi Birru sendiri menggambarkan bahwa di negara kita masih banyak terjadi tindakan kekerasan dan salah dalam memaknai arti toleransi.
Sebelum kita bahas lebih dalam, ada baiknya kita mengenal 3 lembaga tersebut ya. Institut Titian Perdamaian adalah sebuah lembaga penelitian yang memiliki fokus mewujudkan perdamaian, kebebasan dan keadilan dalam tatanan masyarakat yang beragam.
Moderat Muslim Society merupakan sebuah lembaga penelitian yang fokus kepada pengembangan nilai-nilai moderasi atau kemajuan pada Islam yang mengedepankan nilai-nilai toleransi.
Sedangkan Lazuardi Birru merupakan lembaga yang fokus kepada membangun kehidupan berbangsa yang damai, berbhinneka dan tanpa kekerasan atas nama agama yang dimulai dari generasi muda.
Kembali ke laptop…,hehe”. Kasus kekerasan di Indonesia yang paling serius terjadi di lingkaran masyarakat umum dari hasil penelitian Institut Titian Perdamaian (tahun 2009-2010) berupa penghakiman massa. Jika di persentasekan kasus kekerasan dalam bentuk ini memiliki peringkat paling besar yaitu 30% dari kasus dengan tindakan lainnya, seperti kasus tawuran sebesar 21%. Di tahun 2009-2010 kasus konflik di Indonesia meningkat dari 600 kasus menjadi 752 kasus dengan keterlibatan siswa di peringkat tinggi.
Perihal tentang toleransi umat beragama di Indonesia. Seperti yang kita ketahui bahwa di negara ini memiliki enam agama yang diakui, yaitu Islam, Kristen Katolik, Kristen Protestan, Hindu, Budha, dan Kong Hu Cu. Dengan ragamnya agama yang ada di Indonesia sudah seharusnya masyarakat dapat hidup secara harmonis berdampingan, namun nyatanya harapan itu belum terlihat jika kita melihat kenyataan hasil dari penelitian Lazuardi Birru mengenai intoleransi beragama yang dilakukan pada tahun 2011.  Tingkat tidak toleran (intoleransi) masyarakat Indonesia masih berada pada level 67,7%, artinya tingkat toleransi antar umat beragama masih rendah, karena idealnya adalah dibawah 33, 3%. Yang lebih memprihatinkan lagi, sebanyak 1,8 % dari seluruh penduduk Indonesia pernah melakukan aksi kekerasan secara fisik terhadap kelompok pemeluk agama minoritas. Tindakan ini meningkat dari tahun 2010 sebanyak 1,3 %.  Lalu dimanakah orang-orang yang toleran itu berada?
Jika ingin sedikit mendalami, arti intoleransi sendiri dapat terbagi menjadi 6 tahapan. Pertama, adalah penolakan atas status dan akses yang sama terhadap kelompok lain (restriction), memandang rendah kelompok lain (de-humanization), mengabaikan hak-hak sipil, politik dan ekonomi (oppression), penyerangan atau pembunuhan terhadap kelompok lain (act of aggression), melakukan pembunuhan massal (mass-violence), sampai tahapan terakhir adalah membumi hanguskan kelompok lain atau identitas lain sampai ke akar-karnya (genocide).
Penelitian yang dilakukan oleh lembaga Moderat Moslem Society pada tahun 2009, untuk kasus di Indonesia atas tindakan intoleransi yang terberat adalah penyesatan kelompok kepercayaan lain, melakukan ancaman-ancaman, penyerangan terhadap kelompok kepercayaan atau agama lain, sampai kepada aksi peledakan bom.
Untuk kasus intoleransi beragama ini, Lazuardi Birru kembali mempunyai fakta hasil penelitian pada tahun 2010 yang dapat menjadi kekhawatiran kita bersama. Bahwa, sebanyak 1.3 % penduduk Indonesia pernah melakukan tindakan kekerasan fisik secara langsung. Kalau dilihat besarnya persen memang sedikit, tapi coba bayangkan jumlah tersebut diambil dari jumlah penduduk Indonesia sebesar lebih dari 200 juta jiwa, banyak juga kan?
Tidak dapat kita tolak bahwa kekerasan yang sedang marak sekarang ini adalah kekerasan atas nama agama atau atas nama jihad. Banyak peledakan bom yang terjadi di Indonesia dari wilayah barat Indonesia sampai wilayah timur Indonesia yang dilakukan dengan alasan jihad. Mungkin ada dari orang tua, kakak, adik, saudara atau siapapun yang kita kenal menjadi korban kekerasan tersebut. Ini merupakan keprihatinan kita bersama.
Jadi kawan-kawan, sebenarnya apa sih jihad itu? Apakah dengan melakukan peledakan bom seperti yang diatas dinamakan jihad? Apakah melakukan perlawanan dengan senjata dinamakan jihad? Atau ada makna jihad lainnya?
Sebelum kita bahas bersama, kembali kita lihat data dari Lazuardi Birru tentang pemahaman masyarakat Islam di Indonesia tentang tindakan jihad. Tidak sedikit diantara Muslim Indonesia yang memahami bahwa jihad adalah perang atau menggunakan senjata untuk melawan orang atau kelompok yang dinilai mengancam Islam, namun banyak juga yang menerima pemahaman bahwa menahan hawa nafsu merupakan bagian dari jihad.
Jika di persentase, umat Islam yang memahami bahwa jihad hanya berupa perlawanan dalam bentuk perang atau menggunakan senjata dalam melawan orang atau kelompok yang mengancam Islam (jihad fisik) sebesar 23.4%. Lalu, yang memahami jihad tidak hanya dilakukan dengan kontak fisik atau perang saja, melainkan juga menahan hawa nafsu merupakan bagian dari jihad sebesar 18,9%, di luar kedua pemahaman tersebut, masyarakat Muslim Indonesia bersikap netral dalam mengartikan jihad, yaitu sebesar 57,7%.
Jadi dari data tersebut kita dapat melihat bahwa sebenarnya masyarakat Muslim di Indonesia masih banyak yang belum memahami makna jihad yang sesungguhnya. Nah…, kalau kawan-kawan masuk ke pemahaman yang mana?
Makna jihad sebenarnya banyak dijelaskan di dalam Al-Qur’an, baik kalimat jihad itu sendiri atau makna tentang jihad, diantaranya surat An-Nisaa: 95, atau surat Ali Imran: 142. Silahkan dibuka Qur’annya ya kawan-kawan.
Jika di urutkan, macam-macam jihad dapat terbagi menjadi beberapa bagian makna. Pertama, jihad melawan hawa nafsu, jihad dakwah, ataupun jihad sabar. Contohnya, jika kawan-kawan sedang melaksanakan sholat Maghrib, dan di waktu yang bersamaan ada film yang menarik di TV, kalian harus dapat menahan nafsu dan sabar untuk tidak tergoda, seperti mempercepat bacaan atau gerakan solat, ingat… kita bukan supir metromini yang ngebut ngejar setoran kan?hehe…
Kedua, jihad menuntut ilmu. Nah, kawan-kawan yang sedang menuntut ilmu di bangku sekolah atau perguruan tinggi jangan mengira kalian hanya mendapatkan manfaat dan keuntungan dunia saja. Dengan belajar kalian akan sukses dengan kehidupan yang berkecukupan dan bekal amalan untuk di akhirat kelak. Di dalam menuntut ilmu, sesungguhnya kalian juga sedang dalam melakukan jihad. Coba bayangkan jika kalian sudah pintar dan menularkan kepintaran kalian ke orang lain - ilmu yang baik-baik ya - , wah…, besar sekali manfaatnya.
Ketiga, jihad bekerja. Tentu dalam bekerja kita ingin mendapatkan uang, baik itu upah, gaji atau bonus. Dengan bekerja, kalian sebenarnya telah melakukan jihad, misal bagi yang bekerja dan mempunyai keluarga, dia bisa menafkahi keluarganya, atau bagi yang belum memiliki keluarga sendiri kalian dapat menyumbang untuk pembangunan atau perbaikan rumah ibadah atau kegiatan agama maupun sosial lainnya, keren kan…
Keempat, ialah jihad perang. Umat Islam yang melakukan perang dengan kepentingan agama disebut berjihad, namun dengan catatan, jika agama Islam telah diserang terlebih dahulu, dan harus memenuhi syarat-syarat perang dalam Islam, yang akan kita bahas selanjutnya.
Oke mari sekarang kita berperang, lho? Bukan, maksudnya kita akan bahas tentang jihad perang. Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, umat Islam dapat berperang sewaktu sudah dalam keadaan terdesak dan dengan tujuan untuk mempertahankan diri, atau saat dimana kebebasan beribadah menjadi terganggu.
Lalu, Jihad perang bagi umat Islam pasti tidak merugikan orang yang tidak bersalah, bahkan tidak diperbolehkan untuk merusak tanaman atau rumah ibadah, tidak diperbolehkan membunuh orang yang tidak berdosa, serta harus melindungi orang yang lemah.
Perihal keutamaan jihad perang ini, Nabi Muhammad sendiri menempatkan perang di pilihan yang terakhir dan lebih banyak menyelesaikan segala persoalan dengan cara diplomasi tanpa mengangkat senjata.
Masih ingat tentang kisah Fathul Mekah? Bagaimana kaum Quraisy telah melanggar perjanjian Hudaibiyah dengan melakukan pembunuhan terhadap umat Islam pada saat itu. Namun, apa yang dilakukan Rasulullah? Apa melakukan serangan balik? Tidak, Nabi Muhammad menduduki kota Mekah tanpa menggunakan kekerasan, tidak ada setetes darahpun yang ditumpahkan, bahkan Nabi Muhammad beserta pasukannya menjamin semua penduduk Mekah akan keselamatan dimanapun berada, karena tujuan Nabi Muhammad menduduki kota Mekah adalah membebaskan penduduk dari kesyirikan dengan menghancurkan patung-patung yang selama ini menjadi objek dari praktek syirik itu, bukan menghabisi atau membunuh musuh-musuh Islam karena Nabi menghargai mereka sebagai sesama umat manusia.
Itulah jihad yang di contohkan Nabi Muhammad dan kaum muslim pada saat itu, walau dimusuhi, diteror, atau di bunuh oleh kaum Quraisy selama bertahun-tahun, namun tidak dilakukan dengan pembalasan, bahkan memaafkan para musuhnya. Hal inilah yang lebih efektif untuk membuat kaum Quraisy pada akhirnya menerima Islam yang dibawa dengan damai bukan kekerasan
Bagaimana dengan aksi bom bunuh diri yang dilakukan dengan alasan tertentu? Kawan-kawan, melakukan bom bunuh diri atau tindakan-tindakan lainnya yang menyebabkan hilangnya nyawa tanpa alasan yang jelas ditegaskan larangannya pada surat An Nisa’ ayat 29, disana terdapat kalimat “…Dan janganlah kamu membunuh dirimu…”.
Serta, dalam riwayat hadist dari Abu Hurairah (Shahih Muslim), mendapat penekanan bahwa siapapun yang melakukan bunuh diri dengan cara yang dipilihnya, maka di dalam neraka akan melakukan perbuatan bunuh diri dengan cara yang dipilihnya itu berulang-ulang untuk selama-lamanya. Hiii…, ngeri ya. Kesimpulannya adalah perbuatan bunuh diri merupakan perbuatan yang haram dilakukan oleh seorang muslim apalagi dengan alasan benar dan perhitungan yang tidak tepat.
Hal ini juga yang ditegaskan dalam fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) dengan putusannya Nomor 3/ Tahun 2004-Tentang Terorisme, dihukumkan haram bagi yang melakukan teror dengan tujuan membuat kerusakan, menciptakan rasa takut dan tanpa aturan yang jelas.
Pada Al-Quran surat Al Qashash ayat 77 ditegaskan kembali bahwa dilarang untuk membuat kerusakan di muka bumi karena Allah tidak menyukai perbuatan tersebut. Kawan-kawan, dapat makin kita pahami kan bahwa merusak bumi saja tidak diperbolehkan apalagi membunuh sesama manusia.
Yang terjadi di Indonesia adalah pengalihan makna jihad dari arti yang sesungguhnya. Jangan serta-merta kita meyakini bahwa yang melakukan pengeboman atau pembunuhan itu dalam posisi yang benar, walau mereka melakukannya karena alasan agama. Apakah benar yang melakukan hal tersebut memang dibenarkan oleh agama atau tidak? Kenapa orang yang tidak berdosa menjadi korban juga, bahkan sesama umat Islam juga menjadi korban. Disinilah, banyak orang utamanya remaja menjadi korban kesalahpahaman.
Diantara umat Islam banyak yang terjerumus karena menerima paham yang salah, pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab menggunakan ayat-ayat Al Quran namun dipotong-potong sesuai dengan keinginan si penyampai pemahaman itu seolah membenarkan aksi-aksi negatif yang sebenarnya tidak diperbolehkan agama.
Dan, tahukah kawan-kawan ayat Al-Quran yang paling banyak membahas tentang perang yang juga dapat dipersalah gunakan itu? Ialah surat At Taubah.
Jika, kawan-kawan melihat sepotong ayat 5 dari surat At-Taubah, disana terdapat kalimat “…maka bunuhlah orang-orang musyrikin itu dimana saja kamu jumpai mereka, dan tangkaplah mereka…” Wah, bahaya kan? Ayat ini bisa menimbulkan kekeliruan yang fatal.
Namun jika kita baca ayat sebelum dan sesudahnya, ayat 4 dan ayat 6, disana jelas diterangkan bahwa umat Muslim dilarang membunuh bagi umat lain yang mengadakan ikatan damai, tidak mengancam ibadah, membantu umat Muslim, serta yang meminta perlindungan kepada Islam, wajib untuk memberi jaminan keamanan baginya. Sungguh indah bukan? Sesungguhnya ayat 4 sampai dengan 6 dalam surat At-Taubah ini merupakan penjelasan atas peristiwa pengingkaran janji kaum musyrikin terhadap umat Islam dalam hal beribadah haji dan tidak boleh melakukan peperangan. Karena kaum musyrikin melanggar, Nabi Muhammad diizinkan untuk memeranginya pada saat itu dengan catatan tidak memerangi pihak-pihak yang tidak menyerang Islam. Dalam masa saat ini, sungguh tidak tepat apabila kita melakukan peperangan karena posisi umat Islam yang masih bebas dapat melakukan ibadah dengan tenang dan damai. Maka, jadikan kebiasaan ini dalam membaca Al-Qur’an ya, mengartikan dan memahami kitab Al-Qur’an secara utuh.
Oleh karena itu, mari kita mencontoh Nabi Muhammad yang berfikir luas, yang disebut juga dengan berfikir melingkar. Melihat dari sudut pandang yang menyeluruh, tidak hanya satu sisi saja. Keteladanan Nabi Muhammad dalam memikirkan suatu permasalahan dengan pandangan yang luas dapat dilihat dari kisah berikut ini.
Ada sebuah kisah seorang pemuda yang ingin berjihad namun tidak di perbolehkan oleh Nabi Muhammad karena pemuda tersebut masih memiliki ibu yang sudah renta, Nabi Muhammad mengarahkan pemuda tersebut untuk menjaga orang tuanya.
Setelah ibunya meninggal, pemuda tersebut baru ikut berperang dibawah pimpinan Ali bin Abi Thalib karena Nabi Muhammad sudah terlebih dahulu wafat. Maksud dari kisah itu adalah bahwa berbakti kepada orang tua dengan kasih sayang memiliki nilai kebaikan yang sangat besar dan utama, dengan kata lain Rasulullah memandang bahwa berbakti kepada orang tua merupakan jihad yang utama dibandingkan dengan berperang.
Sekarang kita sebagai generasi muda, harus melakukan jihad yang sesungguhnya, yaitu membentengi diri sendiri untuk menangkal propaganda kekerasan yang terjadi di Indonesia dengan tidak mudah terprovokasi dan selalu kritis dalam menghadapi permasalahan, jangan malu bertanya kepada yang lebih ahli.
Jihad kita juga menjaga perdamaian di Indonesia, mari kita lihat perbedaan suku, budaya maupun agama yang beragam di Indonesia ini sebagai berkah yang diberikan khusus oleh Allah SWT. Kita tidak mendapati di negara lain keberagaman seperti yang ada di Indonesia. Jadikan ini sebagai fitrah dan tanggung jawab kita kepada Allah SWT untuk menjaga apa yang sudah diberikan.
Pada saat hijrahnya Nabi Muhammad ke kota Yastrib disana sudah terdapat ragam kelompok yang berbeda juga, tidak hanya Islam. Nabi Muhammad dengan segala kelebihan dan kekurangan berusaha keras menjaga keberagaman tersebut, jika kita mengaku sebagai pengikut Nabi Muhammad sudah sepatutnya mencontoh apa yang sudah dilakukannya di kota Yastrib dalam menjaga perdamaian.
Harus kita sadari, jihad pada masa Nabi Muhammad tidak cocok dilakukan lagi di Indonesia karena saat ini Indonesia bukanlah wilayah perang. Jihad yang sesuai dengan kondisi negara kita adalah melakukan perlawanan atas kebodohan dan kemiskinan, menghindari tawuran, dan selalu berfikir kritis. Dengan begitu kita telah membangun serta mempertahankan kedaulatan negeri Indonesia yang kita cintai ini.
Inilah jihad kita, buktikan inilah jihad umat Nabi Muhammad SAW saat ini. Memberikan manfaat bagi orang-orang yang ada di sekeliling kita. Mengharapkan cahaya Allah SWT selalu membimbing kita di dalam menjalani hidup, membawa cahaya itu untuk kedamaian diseluruh negeri yang kita idamkan. Sungguh indah Indonesia damai tanpa kekerasan.

Share this article :

Post a Comment

Support : Jalantapak | Jalantapak | Jalantapak | Jalantapak Template | Pusat Informasi
Copyright © 2017. Knowledge | Family - All Rights Reserved
Template Created by Jalantapak Modify by jalantapak.com
Proudly powered by Blogger